Oleh : Artanti Arib

Pernah suatu ketika aku berjalan tak tahu arah. Waktu itu hujan juga turun dengan deras. Aku tidak tahu harus berteduh di mana. Tempat ini terasa begitu asing bagiku. Entah apa yang membuatku hingga melakukan hal bodoh ini. Pergi tanpa sepengetahuan keluargaku, hingga tersesat.

Samar-samar aku melihat sebuah rumah di pinggir jalan yang sangat sepi. Rumah itu kelihatan sudah sangat tua dan rusak, sepertinya sudah lama tidak berpenghuni. Aku mendekat dan memberanikan diri karena hujan juga bertambah deras sementara tempat untuk berteduh tidak ada kecuali rumah yang ada di pinggir jalan itu.

Petir menyambar dengan keras, aku berlari masuk ke rumah tua yang kotor itu dengan perasaan takut. Mau bagaimana lagi, daripada tinggal di luar kedinginan, kehujanan atau disambar petir, aku berusaha menahan rasa takut itu. Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki mencari tempat duduk. Aku duduk di kursi sambil memegang gawai, memandangi seluruh sudut-sudut rumah tua itu. Terlihat rumput-rumput yang sudah mulai tumbuh di dinding maupun di lantai.

Beberapa saat aku termenung. “Kapan hujan ini akan berhenti”, batinku. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara aneh yang berasal dari dalam kamar yang penuh rerumputan itu. Aku ingin berlari, tetapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku menutup muka, tapi perlahan aku beranikan diri untuk membukanya dan sambil menahan rasa takut, aku bangkit mencoba masuk ke dalam kamar. Namun, tiba-tiba di belakang aku melihat sosok bayangan yang rambutnya panjang melintas di pinggir rumah tua itu. Dengan keberanian yang masih tersisa, aku mengejar bayangan itu, tapi sekejap sudah menghilang.

Aku kemudian kembali ke tempat duduk semula dan memejamkan mata berdoa agar aku selalu dilindungi oleh Tuhan. Berdoa agar aku selamat sampai pulang. Lama sekali aku memejamkan mata, hingga sayup-sayup kudengar suara memanggil namaku dengan lembut. ” Tanti Sayang… “. Mendengar suara lembut itu, aku menggigil kedinginan, rasa takut kembali menjalari tubuhku. Siapa lagi ini. Apakah bayangan hitam tadi yang kembali lagi? Aku belum membuka mataku. Takut sekali. Suara itu kembali terdengar lagi. “Tanti Sayang, wake up dear“. Perlahan kubuka mataku, dan aku melihat Ibu sudah berdiri di depanku. Aku menggosok mata, tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Oh My God. Ternyata semua itu cuma mimpi. Mungkin karena aku kecapean, jadi tidurku pulas sekali. Ya Allah, semoga itu tidak pernah menjadi kenyataan. Aku berjanji akan rajin membaca doa ketika akan tidur agar tidak mimpi buruk lagi.

Watansoppeng, 17 Desember 2022

(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *