Oleh : Muh. Rizqullah Awal Putra*
Hari pertama masuk sekolah, aku melihat sosok wanita yang misterius di dalam kelas. Dia cantik, sangat pendiam, putih, tinggi, hingga cukup menarik perhatianku.
Hari demi hari aku lalui, rasa penasaranku tentangnya pun terjawab. Wanita itu bernama Dini. Dia pintar dan aktif di kelas. Aku kira dia orang yang pendiam, tapi ternyata tidak juga. Lama kelamaan lincahnya terlihat, sedikit bawel, gokil pula, dan yang paling aku kaget, ternyata dia hobi bermain biola.
Seiring berjalannya waktu, kami pun saling mengenal satu sama lain. Awalnya aku dan Dini sangat kaku sampe kemudian kami menjadi teman dekat, bahkan lebih dekat dari sahabat. Aku selalu menceritakan semua kejadian yang menimpaku, dari cerita susah, senang, sedih, dan sebagainya, begitu pula dengannya. Dia perempuan yang sangat baik dan pengertian. Dia tempat curhat yang asik, tempat sharing pelajaran yang menyenangkan, dan perempuan yang penuh dengan kharisma, sehingga banyak pria lain yang kagum padanya.
Aku seperti buntut baginya, ke mana pun dia pergi, aku selalu mengikutinya. Dari mulai main futsal, main dengan teman-temanya dan mereka juga temanku, sampai satu organisasi pun bersama. Dia yang selalu ada saat aku membutuhkan bantuan. Dari mulai meminta bantuan menyelesaikan tugas, mengantarku pulang, sampai menemani jalan-jalan. Seakan-akan dia itu ambulans yang pada saat aku keluar dari pintu gawat darurat, dia selalu ada. Banyak orang yang menyangka kami pacaran. Oh… itu tidak mungkin. Hahahaha.
Sampai suatu hari, entah apa yang terjadi padaku? Ketika aku melihatnya bermain biola di taman kampus, hatiku berdegup kencang, tanganku berkeringat, lidahku kelu, bahkan kakiku sampai gemetar, tak mampu aku melangkahkan kaki untuk berpaling darinya. Aku tutup mataku agar mendapat ketenangan, tapi saat terpejam tiba-tiba aku mendengar suara, “Don, lagi apa berdiri di sini?” Serentak aku kaget mendengar suaranya.
” Sini temenin aku latihan biola! Kata Dini mengagetkanku. Kubuka mataku, “Eh… heheheh Dini. Lagi diem aja, nyari tukang dagang nih laper”, sanggahku. Ha ha ha Don… Don… sejak kapan ada tukang dagang keliling masuk kampus? Ngaco nih kamu, saking laparnya ya? Kamu mah lapar mulu deh perasaan. Yuk, aku traktir makan. Hari ini aku jadi pemadam kelaparan kamu. Ha ha ha” ledeknya padaku. (Bersambung)
*Siswa SMP Islam Al-Azhar 32 Padang Sumatera Barat
