Oleh : Uqail Khafadi*
Hari minggu lalu saya bermain ponsel bersama teman-teman di teras rumah. Setelah itu lupa di mana meletakkan ponsel. Pukul 20.00 malam sudah mencarinya dihampir seluruh sudut-sudut rumah tempat di mana saya biasa menyimpan barang, tetapi belum ketemu.
Saya merasa bersalah karena ponsel itu hasil tabungan abang saya. Karena itu, sebagai rasa bersalah dan tanggung jawab, saya harus mengganti ponsel itu. Lalu di mana saya harus dapat uang? Kalau minta sama ayah sama saja bukan aku yang ganti. Di mana tanggung jawabku, kataku membatin.
Saya terus berpikir mencari jalan keluarnya, hingga kutemukan solusinya dengan menjual karya-karya gambarku ke teman-teman sekolahku. Kebetulan saya hobbi menggambar untuk koleksi sendiri.
Namun, ternyata menjual gambar karya sendiri tidak semudah yang saya perkirakan. Saya tipe orang agak tertutup sehingga beberapa karya gambarku tidak pernah saya perlihatkan kepada orang lain, tetapi karena kondisinya mendesak harus saya tawarkan ke teman-teman.
Saya sudah mempromosikan gambar, dan Alhamdulillah ada teman yang mau membeli. Untuk memuaskan teman tersebut, saya membuatkan sampai tengah malam. Saya sangat senang karena mendapat orderan pertama.
Sesampainya di sekolah, ada salah satu teman yang berkata “mewarnainya aja belepotan” yang menyebabkan teman yang order tidak jadi beli. Sampai di situ saya masih sabar, karena ingat masih ada orderan lain. Sata kemudian memanggil teman yang telah memesan gambarku. Di luar dugaanku ternyata dia tidak suka sama gambarku dan membuangnya.
Saya boleh menahan emosi dia tidak membeli gambar pesanannya, tapi dia membuangnya sudah keterlaluan. Rasanya ingin menangis karena orang-orang sudah menolak gambar karyaku. Saya pun lari ke dalam wc sekolah dan menangis.
Untuk mencari solusi saya pinjam ponsel guru untuk menelpon mama. Memdengar suara mama, saya langsung menangis sambil menceritakan kondisi yang saya alami direndahkan karya gambarku. Mama menasehati dengan mengatakan, “Itu tantangan nak dan kamu harus sabar melewatinya untuk tetap berkarya”.
Pulang sekolah seperti biasanya saya lanjut membaca buku, dengan harapan ada keajaiban ponsel hasil nabung abangku bisa datang kembali. Dengan bantuan teman yang telah melacak keberadaan ponselku, tetap saja tidak ada titik terang.
Walaupun tidak ketemu, saya tetap berterima kasih kepada teman yang telah berusaha membantu mencarinya.
Setelah tiga hari berlalu, abang saya menelpon ayah dari pesantren tempatnya mondok. Katanya waktu kunjungan sudah ada dan saya langsung terkejut mendengar itu, karena abang pasti akan marah kepada saya yang sudah memberi kepercayaan, tapi saya justru menghilangkan ponselnya. Ya Allah ya Rabb, saya gagal menjaga kepercayaan abangku, kata hatiku bersedih.
Namun, setelah abang menelpon itu, saya terus memikirkan bagaimana caranya keluar dari situasi ini. Pada sisi lain, hari yang sama waktu kunjungan orang tua ke pondok nengok abang, papa saya ada keperluan ke kampus yang tidak bisa ditunda juga. Papa sedih karena sudah rindu ingin ketemu abang sementara urusan ke kampus tidak bisa di tinggal juga. Akhirnya, papa mengambil keputusan memilih menyelesaikan urusannya ke kampus, sementara saya dan mama pergi menengok abang di pesantren.
Keesokan harinya ketika hendak berangkat menengok abang, ternyata mama menemukan ponsel saya di bawah kursi. Alhamdulillah, betapa gembira dan senangnya melihat ponsel abang sudah ketemu.
Setiba di pondok pesantren perasaan takut dan bahagia ketemu sama abang. Alhamdulillah , abang orangnya sangat memahami saya. Semenjak mondok abang saya sangat berubah, saya merasa betul-betul menemukan sosok seorang kakak yang sayang, pengertian dan tanggung jawab. Maafkan Uqail ya uda, saya panggil abang saya “uda” sebutan familiar bagi lelaki di Minangkabau. Saya tidak menceritakan abang betapa sulitnya berdamai dengan emosi saat karya gambarku dihina.
*SDIT ATTIN Lubuk Buaya Kota Padang
