Oleh: Madelina Cinta Fitriadi*

Seni mengajarkan saya arti hidup yang sesungguhnya. Tentang apa yang harus dipelajari dan apa yang mesti dipahami. Unsur-unsur kecil yang kemudian berubah menjadi struktur penyusun yang indah. Segala sistim saya berpikir tentang hal itu. Antara sakit yang saya rasakan, dan memori singkat yang masih teringat bila diceritakan.

Sore adalah kata penutup untuk mengakhiri hari yang cukup melelahkan. Saya menghela nafas panjang dengan perasaan yang membosankan. Tanpa dorongan kata semangat, saya melangkahkan kaki menuju tempat yang begitu menakjubkan.

Taman adalah media percampuran warna-warna yang saling membutuhkan. Mengapa demikian? Tak ada warna yang indah jika ia hanya sendirian. Maka dibuatlah kolaborasi yang saling menguntungkan. Kolaborasi tersebut kemudian berubah menjadi hasil yang begitu indah.

Saya duduk di kursi taman itu dengan lembaran buku dan sebuah pena. Saya melampiaskan segala rasa lelah yang tertahan dalam diri saya. Torehan tulisan dari setetes tinta menggambarkan semua yang saya rasakan pada saat itu. Akankah ada yang berubah? Sepertinya tidak mungkin. Namun, saya melihat jam sudah hampir pukul 18.00.

Senja memanggil saya dengan cahaya indahnya. Langkah kaki ini seakan tak bisa dihentikan. Ia terus berjalan hingga tiba disebuah penantian. Sekarang tiba saatnya. Sang mentari akhirnya menayangkan keindahannya. Penayangan dari warna jingga yang kian memberikan ketenangan.

Saya merasa benar-benar menemukan rumah yang sebenarnya. Mungkin tidak ada tempat untuk saya melampiaskan seluruh perasaan. Tetapi akan ada senja yang selalu ada di saat suka maupun duka, untuk menghapus luka dengan keindahannya.

*Siswi SMAN 1 Nan Sabaris

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *