Oleh: Kaila Irma Febriani
Beberapa bulan lalu, saat saya masih menduduki bangku kelas 9 MTsN, saya mempunyai seorang teman. Lumayan dekat layaknya sahabat. Kami selalu berbagi cerita, ataupun saling mengobrolkan hal-hal yang menurut kami itu obroloan yang asyik. Saya dan dia selalu menghabiskan waktu bersama saat di sekolah, bahkan sampai berbaris di lapangan pun kami selalu berdampingan.
Namun, ada beberapa hal yang membuat saya terkadang sedikit kecewa darinya, tetapi saya berusaha menyimpannya berharap itu tak akan menjadi sebuah masalah besar. Saya dan dia tetap berteman baik meski terkadang ada pertengkaran kecil di antara kami.
Di kelas ini waktu terasa begitu cepat berlalu, tinggal 1 bulan lagi saya dan dia menduduki bangku kelas 9. Ada perasaan sedih yang tak terungkapkan di hati saya, ditambah kami memilih sekolah lanjutan yang berbeda dan jarak yang cukup jauh pasti akan membuat kami jarang bertemu.
Benar saja, sehari selepas acara perpisahan di MTsN, saya masih sempat berkomunikasi dengan dia meskipun tak sedekat dulu. Ada yang berbeda, entah apa itu, yang pasti, kami sudah memulai sebuah perpisahan tanpa kata pamit.
Jarak di antara kami semakin renggang, bahkan yang dulunya setiap hari tidak pernah absen untuk komunikasi, di hari berikutnya sampai 3 bulan kemudian, kami sudah tidak lagi berkomunikasi lewat apa pun.
Ternyata, perpisahan itu bukan hanya perihal pamit dan kembali bertemu. Namun, juga tentang luka dan perih yang ditinggalkan, bersama jarak yang semakin jauh untuk digapai.
