Pov Dewa

Di sebuah kamar yang bernuansa hutan bambu, seorang pemuda sedang tertidur di atas kasurnya dengan nyenyak. Alaramnya tiba-tiba berbunyi hingga mengusik tidurnya yang nyenyak.

Pemuda itu menyibakkan selimut lalu duduk sejenak sebelum kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, lalu menyalakan keran air dan mandi.

Setelah mandi, ia keluar dari dalam kamar mandi yang hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya dan berjalan ke arah lemarinya, kemudian membuka pintu lemari dan mengeluarkan pakaian yang akan ia gunakan.

Seorang pemuda tampan dengan bola mata yang berwarna biru namun samar dengan postur tinggi dan berotot serta rambut yang memiliki ujung berwarna silver. Dia adalah Dewa. Seorang mahasiswa tahun ke tiga di salah satuh Universitas bergengsi di Jakarta.

Setelah selesai berpakaian, Dewa keluar dari dalam kamarnya dengan menenteng tasnya dan turun ke lantai bawah. Dewa berjalan ke arah kulkas, lalu membuka pintu kulkas dan mengambil sekotak minuman dan sebungkus roti dingin dari dalam kulkas dan menutupnya kembali.

Setelah itu, Dewa berjalan ke arah pintu utama dan keluar dari dalam rumahnya. Karena jarak antara rumahnya dan kampus tidak terlalu jauh, Dewa memilih berjalan kaki saja. Sebuah Earphone terpasang kokoh di kedua telinganya. Dia memutar lagu di ponselnya.

Setelah beberapa saat berjalan, Akhirnya ia sampai di depan gerbang kampusnya. Dewa melangkahkan kakinya masuk area kampus. Dewa menyusuri koridor demi koridor di kampus menuju ruang kelasnya.

Sesampainya di ruangan, Dewa berjalan ke arah tempat duduknya dan meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di kursinya.

Karena hari ini Dewa ada kelas malam, akhirnya dia pulang larut malam. Saat di tengah perjalan, sekelebat bayangan hitam tiba-tiba menghadang di depannya. Dia sudah sangat lelah karena rutinitas perkulihannya hari ini yang berakhir di malam hari sehingga ia mengabaikan bayangan hitam itu. Namun bayangan hitam itu tiba-tiba menyerangnya. Dewa berusaha untuk menghindari serangan bayangan hitam tersebut karena dia tidak ingin pertempuran ini terjadi.

Karena lelah, emosinya menjadi tersulut. Ia mulai membalas serangan dari bayangan tersebut hingga bayangan hitam itu musnah. Setelah itu, Dewa pun kembali melanjutkan berjalan. Saat melewati taman yang berada di dekat rumahnya, liontin merah yang melingkar di lehernya bersinar dan menarik Dewa menuju ke area taman. Sesampainya di taman itu, Dewa melihat seorang gadis sedang duduk di kursi seorang diri.

****

Pov Della

Seorang gadis cantik dengan perawakan mungil, menggunakan gaun berwarna putih, sedang terbaring di kursi taman yang ramai akan pengunjung . Namun anehnya, di taman yang begitu ramai, seakan orang-orang acuh kepadanya bahkan penjaga keamanan tidak menegurnya.
Gadis itu secara perlahan membuka matanya karena terusik oleh suara ramai pengunjung dan sinar matahari yang menyilaukan. Saat dia melihat di sekelilingnya gadis itu bingung mengapa ia berada di sini. Gadis itu berjalan menghampiri seorang wanita yang sedang duduk tak jauh darinya. Dia berusaha untuk menyapa wanita itu namun wanita itu tidak menggubrisnya. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah wanita itu tetapi diacuhkan. Gadis itu pun mencoba bertanya pada penjaga keamanan tetapi masih tidak ada respon apapun.

Gadis itu mulai panik. Ia mulai mengelilingi taman dan bertanya kepada setiap orang yang ada di sana. Namun, gadis itu bagaikan angin, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. Sudah hampir seminggu gadis itu berkeliaran kesana kemari di taman hingga suatu malam seorang pemuda tampan menegurnya “Apa yang kau lakukan disini?”

Gadis itu sangat senang karena ada seseorang yang menegurnya. Setelah beberapa perdebatan, pemuda itu memberitahukan kebenaran kepada gadis itu dan membawa gadis itu pergi dari sana.

***

‘Eh.. apa yang terjadi denganku? aku tersenyum? Wahh sudah lama sekali aku tidak tersenyum… apakah karena Dela?’ batin Dewa melihat dirinya di cermin.

“Wah… sebuah keajaiban melihat mu bisa tersenyum lagi” Ujar Noah yang tiba-tiba muncul di belakang Dewa.

“Kamu ngapain kesini?” ketus Dewa

“Akukan saudaramu. Kenapa kejam sekali pada ku?..” ucap  Noah mendramatiskan keadaan.

“Punya saudara sepertimu melelahkan” tukas Dewa

“Kejamnya… oiya sudah ratusan tahun aku tidak melihatmu tersenyum… ada apa?” Selidik Noah

“Bukan apa-apa. Urus saja urusanmu. Jangan menggangguku. Sudah sana aku mau ngampus” usir Dewa sambil mendorong Noah keluar dari kamarnya.

“Hah… punya saudara gini banget… yaudah aku pergi dulu” ucap Noah yang lalu menghilang

Setelah selesai bersiap-siap, Dewa keluar dari dalam kamar dan menghampiri Della yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia… Dia adalah Della. Gadis yang iya temukan di taman dan telah membuatnya tersenyum setelah sekian lama.

“Kamu jangan keluar rumah dan juga, sebelum aku pulang kamu jangan buka pintu rumah” pesan Dewa

“Emangnya kenapa? kok aku gak boleh keluar rumah?” tanya Della

“Pokoknya jangan… Apa lagi saat malam… Ingat… jangan merepotkanku” ucap Dewa dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya.

“Iya-iya… bawel ah… udah sana pergi” usir Della

“Malah ngusir jelas-jelas pemilik rumah ini aku” ucap Dewa dengan mencibir.

“Iya iya…”

Dewa pun berangkat ke kampusnya. Saat Dewa ke kempus Della duduk sofa sambil menonton Televisi dan memakan beberapa snack milik Dewa tanpa izin.

Saat sedang asik menonton, Della mendengar suara ketukan pintu dan ia pun berjalan ke arah pintu. Della melupakan pesan yang dikatakan Dewa sebelum kekampus. Della memegang gagang pintu dan bersiap untuk membuka pintu. Saat ingin menarik gagang pintu, sebuah suara dari arah belakang menghentikannya.

***

Penulis : Muh. Irwan ali
Asal sekolah : SMA Haji Agus Salim
Kelas : 10
Kec : Katoi
Kab : Kolaka Utara

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *