Seorang gadis yang menggunakan baju gamis berwarnah hitam dengan warna hijab yang senada lengkap dengan cadarnya, berjalan tergopoh-gopoh dengan membawa sebuah kotak besar menuju ke sebuah tempat.

“Assalamualaikum ibu, maaf yah, Lea baru bisa datang ke ibu sekarang. Ibu pasti marah sama Lea kan? Terakhir Lea ke sini empat tahun lalu bahkan saat momen hari raya Idul Fitri dan Idul Adha Lea gak pernah menemui ibu,” gadis itu berusaha menahan tangisnya, namun kelopak matanya tak kuasa membendung butiran-butiran kristal bening yang perlahan mengalir di pipinya.

Semakin lama tangisnya semakin terdengar jelas, tak lama kemudian dia mengeluarkan sebuah foto dari kotak tersebut. Ia memeluk foto itu sambil menangis tersedu-sedu di dekat sebuah pusara yang sudah lama tidak pernah di kunjungi. Sambil menahan isak tangisnya ia mencabut rumput-rumput yang tumbuh di makam ibunya.

“I-i-ibuuu.. hukhuk, Lea rindu sama ibu hukhuk, ibu jangan marah yah kalau Lea nangis, Lea gak kuat bu hiks hiks,” kata gadis itu sambil menabur bunga mawar merah ke makam ibunya.

Cleasa, gadis 22 tahun yang kerap di panggil Lea, gadis tangguh yang berhasil bertarung melawan rasa sakitnya untuk mewujudkan impiannya yang mulia. Dia hidup sebatang kara tanpa ibu dan ayahnya, berusaha melawan kerasnya kehidupan untuk mengubah nasib dan megabulkan permintaan terakhir ibunya.
Tepat 7 tahun silam ibunya pergi meninggalkan dirinya seorang diri di usia yang masih sangat belia, sedangkan ayahnya memutuskan pergi ke luar kota ketika ibunya mulai sakit-sakitan. Ayahnya pergi entah kemana dan tak pernah kembali, bahkan kabarnya pun tak pernah terdengar sampai sekarang.

Bayang-bayang masa lalu kini menghampiri pikiran Lea, teringat jelas betapa hancurnya ia ketika ia harus kehilangan pegang hidupnya untuk selama-lamanya. Di tinggal oleh sang ibu seorang diri. Dia sangat hancur-sehancurnya.

Flashback

“Assalamualaikum, ibu panggil saya yah?” kata Lea sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam, iya nak ayo masuk,” jawab ibu kepala sekolah. Dengan senyumnya yang ramah.

“Emm ada apa yah bu?”

“Begini nak ibu ingat waktu porseni tahun kemarin kamu melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan sangat merdu. Nah tadi ibu baru dapat informasi kalau tahun ini ada lomba tilawah Al-Qur’an sekota Makassar, kamu mau ikut? hadiahnya lumayan nak, kalau kamu juara kamu bisa dapat beasiswa penuh untuk sekolah di pesantren terkenal di Jawa, ada hadiah uang tunai juga lumayan buat pengobatan ibu kamu,”

“Saya mau ikut bu. Nanti uangnya bisa buat operasi ibu,” Jawabnya dengan sangat gembira. Namun wajah tiba-tiba murung. “Tapi……..

“Tapi kenapa nak?”

“Ibu saya lagi dirawat di rumah sakit bu. Saya tidak punya uang untuk pendaftaran,” jawab Lea menunduk kecewa.

“Tidak apa-apa nanti uang pendaftarannya biar ibu yang tanggung. Jadi kamu harus ikut. Buat sekolah kita bangga. Lombanya akan diselenggarakan hari senin depan,” kata ibu kepala sekolah dengan penuh wibawah dan kasih sayang.

“In syaa Allah bu. Terima kasih banyak bu. Lea izin pulang. Lea tidak sabar untuk beri tau ibu. Assalamualaikum,” jawab Lea dengan perasaan gembira.

“Waalaikumsalam,” jawab ibu kepala sekolah.

1 Minggu kemudian…

Dengan melewati proses yang panjang akhirnya nama Lea di sebut sebagai juara ke-2. Walupun sedikit kecewa karena tidak mendapat juara 1, Lea tetap bangga dan sangat senang karena bisa mendapat uang dan beasiswa untuk menimba ilmu di salah satu pesantren terkenal di Jawa. Tak lupa Lea sujud syukur karena mendapat rezeki yang tak terduga. Akhirnya, Ibunya bisa segera dioperasi.

Namun di sisi lain ia juga cemas dan sedih kalau nanti dia pergi siapa yang akan merawat ibunya yang sedang sakit dan saat ini berada di rumah sakit. Saat ini Ibunya hanya ditemani oleh ibu Sitti, tetangga Lea yang dengan senang hati menjaga ibunya ketika Lea pergi untuk mengikuti lomba.

Lea cepat-cepat membuang rasa sedihnya dan tak sabar untuk memberitahu kabar gembira ini ke ibunya,

“Allah pasti punya jalan keluarnya, aku gak boleh sedih. Ibu pasti bangga mendengar berita ini. Ibu juga bisa segera dioperasi supaya ibu bisa cepat sembuh dan akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan ibu untuk sekolah di pesantren dan menjadi seorang hafizah,” ucap Lea dengan menghapus air matanya, ia berlari dengan memeluk piala dan piagam kejuaraannya.

Setelah sampai di rumah sakit Lea bergegas menuju kamar dimana ibunya di rawat, namun raut wajahnya berubah ketika melihat tidak ada satupun orang di kamar itu.

“Ibuuu…, ibuuu dimana?” teriak Lea. Satu persatu air matanya meluncur membasahi pipi manisnya.

Ia berlari mencari ibunya hingga tak sengaja bertabrakan dengan suster yang pernah merawat ibunya.

“Maaf yah dek saya gak sengaja,”

“Sus… suster, lihat ibu saya gak? di bangsal nomor 12 atas nama ibu Rania?” tanya Lea dengan nafas yang terengah-engah.

“Oh, kamu anaknya yah? ibu Rania sudah di bawa pulang dek,” jawab suster itu.

“Loh, kok pulang? ibu saya kan harus di operasi, ini saya sudah bawa uangnya sus,” Ucapnya sambil mengeluarkan amplop yang berisikan uang hasil lombanya.

“Maaf dek tapi ini permintaan ibu Rania,” Jawab suster itu.

Tanpa sepatah katahpun Lea berlari keluar dari rumah sakit dengan tetap memeluk piala dan piagamnya. Di sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya Lea menyanyikan sholawat nabi untuk menenangkan hatinya yang gelisah dan merasa ia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Sesampainya di depan rumah ia bagai di sambar petir di siang hari, hatinya bagai disayat-sayat. Piala dan piagam yang sedari tadi berada di genggamannya kini terjatuh ketika ia melihat banyak orang yang berdatangan memakai pakaian hitam dan terlihat bendera putih di depan rumahnya. Ia bergegas berlari memasuki rumah tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya. “Ini pasti salah. Tidak mungkin, pasti ibu baik-baik saja” rancaunya dengan air mata yang terus mengalir. Mencoba mematahkan dugaan-dugaan buruknya.

Ia berdiri di depan ibunya yang lemah tak bernyawa. Senyuman yang ia tunjukkan sedari tadi kini telah pudar tergantikan oleh air mata yang membanjiri pipinya. Tubuhnya meluncur dengan lembut ke lantai. Jiwanya hancur, hatinya rapuh, baru beberapa jam berlalu Allah memberinya rezeki yang tak pernah ia bayangkan, kini Allah telah mengambil hidupnya, ibunya sudah tiada. Lea memeluk jasad ibunya diiringi isak tangisnya yang terdengar sangat memilukan. Orang-orang hanya menatap gadis itu dengan perasaan penuh iba.

Setelah pemakaman ibu Lea selesai, orang-orang berpamitan untuk pulang. Perlahan matahari mulai terbenam, ibu Siti yang sedari tadi dengan setia berada di samping Lea mengantarkan ibunya ke peristirahatan terakhirnya juga pamit pulang.

“Nak, kamu yang sabar yah! sekarang ibu kamu sudah tidak sakit lagi. Kamu banyak-banyak doain ibu kamu supaya dia tenang di surga!” kata ibu Siti mengelus rambut panjang Lea.

“Hiks hiks iya bu, makasih yah. Ibu Siti udah mau bantuin Lea hiks hiks,” jawab Lea berusaha membendung kesedihannya.

“Iya nak, ibu kamu itu sudah seperti saudara bagi ibu. Jadi memang sudah kewajiban ibu untuk bantuin kalian. Lea kamu mau gak ikut ke rumah ibu Siti? kamu tinggal sama ibu aja yah!”

“Emm makasih bu, tapi Lea tetap mau di sini di rumah Lea sama ibu hiks hiks,”

“Tapi nak, kamu masih sangat kecil, kamu gak takut?”

“Nggak kok bu, ibu selalu bilang kalau kita takut menghadapi sesuatu, kita bisa minta pertolongan sama Allah. Allah akan selalu melindungi kita dimanapun kita berada,”

“Masyaa Allah nak, ibu kamu memang sangat beruntung punya anak seperti kamu. Ibu doain semoga impian kamu bisa tercapai.” Ucap ibu Sitti. “Aamiin.” Balas Lea

“Oh iya sebelum ibu kamu wafat dia titip satu pesan buat kamu!” Lanjut ibu Sitti. “Apa yah bu?” Ucap Lea dengan wajah penuh tanya.

“Ini ibu kamu titip tasbih dan Al-qur’an ini untuk kamu agar kamu senantiasa berada di jalan Allah dan melaksanakan perintahnya, bagaimanapun kekecewaan yang kamu rasakan kamu harus tetap ingat sama Allah,”

Lea hanya menangis menatap pemberian terakhir ibunya, dia ingat kata-kata ibunya yang mengatakan, “kalau misalkan ibu sudah tiada kamu gak boleh nangisin ibu kamu harus bisa ikhlas, kamu gak mau lihat ibu disiksa karena air mata kamu kan?” Lea berusaha menahan rasa sakitnya, ia tidak mau terlalu larut dalam kesedihan, ia harus kuat demi ibunya.

“Lea, ibu mau pamit dulu yah nak. Jaga diri kamu. Kalau kamu butuh apa-apa kamu datang aja ke ibu. Assalamualaikum,”

“Iya bu, hati-hati yah. Waalaikumsalam,” jawab Lea.

Kini Lea hanya tinggal sebatang kara di usia 15 tahun. Ia harus bertarung melawan kerasnya kehidupan tanpa dukungan dari ibu tercinta. Ia terpaksa melanjutkan hidupnya dengan membawa kesedihan atas kepergian ibunya. Dia benar-benar sendiri. Perlahan ia melangkah ke kamar ibunya dengan mengingat masa-masa bahagianya bersama sang ibu.

“Aku percaya ini jalan terbaik yang Engkau pilih ya Allah untukku. Sekarang ibu sudah bersama dengan_Mu. Engkaulah yang akan menjaganya. Aku akan masuk ke pesantren dan mewujudkan impianku,” kata Lea memeluk fotonya bersama sang ibu.

Flash On

Lea menghapus air matanya dan berusaha untuk tenang, ia tidak boleh menangis seperti yang dikatakan ibunya.

“Bu, ini Lea bawakan hadiah spesial untuk ibu,” kata Lea mengeluarkan beberapa pengahargaan yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan di bangku pesantren.

“Bu, sekarang Lea sudah jadi hafizah seperti yang ibu inginkan selama ini. Ini adalah piagam-piagam dan piala penghargaan yang Lea dapatkan selama di pesantren. Ini semua karena kerja keras dan kegigihan yang selalu ibu tanamkan dalam diriku” kata Lea kembali mengeluarkan sesuatu dari kotak tersebut.

“Satu lagi bu, Sekarang Lea juga sudah jadi dokter bu seperti yang selalu Lea impikan dari kecil. Sekarang aku akan berusaha untuk mengobati orang sakit yang tidak memiliki biaya untuk berobat, agar anak-anak di luar sana tidak harus kehilangan orangtua mereka seperti yang Lea rasakan bu, hukhuk…” Lea tak kuasa membendung kesedihannya.

Semesta juga seolah merasakan kesedihan yang dirasakan Lea saat ini, perlahan rintik hujan jatuh membasahi tubuh Lea.

“Seandainya ibu masih ad disini sama Lea, Lea pasti akan selalu buat ibu bahagia. Tapi aku yakin sekarang pasti ibu lihat aku dari surga dan ikut bahagia. Ucapnya dengan menghapus air matanya. “Lea janji tidak akan menangis lagi bu. Lea akan terus tersenyum biar ibu juga tersenyum di sana” katanya dengan seulas senyum diwajah cantiknya.

Dia terdiam sejek menatap pusara ibunya. Kemudian dia berpamitan. “Bu, Lea mau pamit pulang dulu yah? Aku janji besok aku ke sini lagi. Aku masih mau cerita banyak sama ibu,”

I miss you so much my angel, Assalamualaikum bu,” ucap Lea mengusap batu nisan ibunya.

Lea berdiri memeluk kotak besar yang dibawanya, ia meninggalkan makam ibunya dengan berusaha untuk tetap tegar.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *