Oleh: Faiq At Taqif*

Tanggal 14 Agustus, sekolahku dipenuhi suasana meriah untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Dari pagi, halaman sekolah sudah dihiasi bendera dan pernak-pernik merah putih yang berkibar ditiup angin. Semua siswa terlihat bersemangat, wajah mereka ceria, seakan-akan tak sabar menanti dimulainya lomba.

Aku ikut serta dalam beberapa lomba, yaitu balap karung, estafet sarung, dan lomba senam. Saat lomba balap karung, degup jantungku terasa kencang sebelum start. Begitu peluit berbunyi, aku melompat sekuat tenaga sambil berusaha menjaga keseimbangan. Beberapa teman jatuh terjerembab, ada yang tergelincir, dan tawa pun pecah di sepanjang garis lomba.

Lomba estafet sarung ternyata jauh lebih menantang daripada yang kukira. Setiap kali berganti sarung, selalu saja ada teman yang terjatuh atau tersandung. Bukannya kesal, justru hal itu membuat kami semakin terbahak-bahak. Rasanya lomba ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana kami bisa tertawa bersama, menikmati kebersamaan.

Saat lomba senam dimulai, suasana berubah menjadi penuh konsentrasi. Kami harus kompak mengikuti setiap gerakan. Kadang ada yang salah gerakan, tapi bukannya memalukan, justru membuat suasana semakin hangat dan seru. Walaupun tubuh terasa lelah, semangat tak pernah padam.

Kemudian tibalah tanggal 17 Agustus, hari yang paling ditunggu. Sejak pagi, semua siswa sudah mengenakan seragam rapi. Kami berdiri berbaris di lapangan dengan khidmat, menunggu upacara dimulai. Ketika bendera Merah Putih mulai dikibarkan dan lagu Indonesia Raya berkumandang, suasana hening sejenak. Dadaku terasa bergetar, ada rasa haru sekaligus bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat itu aku benar-benar merasakan arti kemerdekaan, betapa besar jasa para pahlawan yang rela berkorban demi bangsa.

Hari Kemerdekaan tahun ini sungguh berkesan. Lomba pada tanggal 14 Agustus memberi tawa dan kebersamaan, sementara upacara pada tanggal 17 Agustus memberikan makna yang dalam tentang cinta tanah air. Bagiku, kedua momen itu bukan sekadar acara tahunan, melainkan kenangan indah yang akan selalu kuingat sebagai wujud rasa syukur dan semangat nasionalisme yang tak pernah padam.

Watansoppeng, 26 Agustus 2025

*Penulis adalah Siswa SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.3

(Visited 253 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *