Setelah membuka penyamarannya, Fiki langsung menerjang ke arah Luis dan Ortega. Namun karena perbedaan kekuatan yang besar, hanya dengan satu tiupan, Luis mendorong Fiki hingga terpental beberapa meter.
“Manusia buatan memang kuat, tapi aku baru akan serius”, ucap Fiki diikuti munculnya pedang yang dikelilingi asap hitam dan kembali menerjang ke arah Luis.
“Dasar manusia rendahan, berani meniru adikku. Terbakarlah dalam keputus asaan,” teriak Luis yang disertai munculnya kobaran api di sekeliling Fiki.
Fiki mencoba memadamkan api yang mengelilinginya namun nihil. Api tersebut semakin membesar dan melahap tubuh Fiki. Di balik kobaran api, wujud asli Fiki terlihat ketika api membakar kulitnya.
“Robot…” ucap Sagi yang tiba-tiba muncul di samping Ortega.
“Hanya begini saja. Ha ha ha. Aku akan memusnahkan kalian semua,” ucap Fiki sambil berjalan keluar dari kobaran api dan menampakkan wujudnya yang terbuat dari logam.
“Matilah,” ucap Fiki yang merubah tangannya menyerupai sebuah pedang yang dikelilingi oleh aliran listrik.
Belum sempat menembak, sebuah balok besi seukuran pesawat dengan ujung yang runcing menimpa tubuhnya. Fiki mencoba menahan besi tersebut, namun tekanan dari besi itu semakin kuat dan dia pun hancur tertimpa besi runcing tersebut.
“K-kalian tidak a-apa-apa kan?” tanya Rafa asli yang turun dari atas balok besi dengan kondisi tubuh yang penuh luka.
“Rafa, apa yang terjadi padamu,” tanya Luis yang langsung menghampiri Rafa.
“Tidak apa-apa. Aku hanya luka kecil saja. Uhuk,” ucap Rafa lalu batuk darah.
“Sagi, cepat obati Rafa,” ucap Luis.
“Baiklah,” Ucap Sagi.
Sagi duduk bersila di depan Rafa lalu menyatukan kedua tangannya di depan dadanya. Seberkas cahaya berwarna hijau muncul di telapak tangan Sagi. Seiring munculnya cahaya hijau di kedua tangan Sagi, puluhan tanaman merambat bergerak ke arah Rafa, lalu membungkus seluruh tubuh Rafa tanpa membuat cela sedikitpun.
Kemudian, Sagi meletakkan kedua tangannya ke tanaman merambat yang menutupi tubuh Rafa dan menyalurkan cahaya hijau di tangannya ke tanaman merambat tersebut. Setelah beberapa saat, tanaman merambat yang menutupi tubuh Rafa perlahan meninggalkan tubuh Rafa dan kembali kedalam tanah.
“Rafa…” ucap Luis.
“Kak Luis! Syukurlah kalian masih hidup,” Ucap Rafa memeluk Luis.
“Kak Rafa… kami semua merindukanmu,” ucap Ortega dan keempat adiknya.
“Sagi, Murphy, Farel, Abel, Ortega, Luis, kukira aku tidak akan melihat kalian lagi,” ucap Rafa dengan mata berkaca-kaca.
“Kak Rafa, senang kau kembali lagi,” ucap Murphy memeluk Rafa.
Di sela sela reuni mereka, sebuah suara membuat mereka menoleh ke sumber suara.
“Wah wah wah, pertemuan yang mengharukan. Seharusnya aku tidak mengganggu kalian,” ucap William yang muncul di padang rumput itu.
“Kau… penjahat memang memiliki banyak nyawa,” ucap Rafa.
“Jangan berbicara dengannya. Terbakarlah dalam kesengsaraan, api abadi,” ucap Luis di sertai munculnya lingkaran api di bawah tempat William berpijak.
Dengan sekali hentakan kaki, lingkaran api ciptaan Luis menghilang.
“Terlalu kuat” ucap Luis.
Setelah lingkaran api Luis menghilang, Sagi mengendalikan tanaman yang ada di sana untuk menyerang William dibantu Murphy yang dapat mengendalikan ruang dan waktu. Namun, kekuatan Willian lebih kuat sehingga kekuatan mereka di tepis dengan mudah.
Kini giliran William yang mulai menyerang mereka. William menggunakan kekuatan gravitasi untuk menekan mereka ke bawah. Di bawah tekanan yang kuat, mereka mencoba untuk tetap berdiri.
“Tidak akan kubiarkan kejadian itu terulang lagi,” ucap Rafa mengarahkan tangannya ke udara dan menciptakan puluhan besi runcing dan menyerang ke arah William.
William menghindari setiap serangan yang diberikan oleh Rafa. Murphy langsung membantu Rafa untuk menghambat pergerakan William dan memindahkan kembali serangan Rafa yang berhasil dihindari William ke arah William lagi.
Merasa tersudut, William kembali menghentakkan kakinya dan membuat mereka bertujuh terhempas beberapa meter ke belakang. Rafa kembali bangkit dan mulai menyerang William lagi. Namun, William kembali membuatnya terhempas hingga menabrak pohon.
“Uhuk” Rafa mengeluarkan darah segar dari mulutnya setelah menabrak pohon.
William mendekat ke arah Rafa yang sedang kesakitan. “Seharusnya kau tidak melawanku,” ucap William.
“Huh… masuk jebakan,” ucap Rafa diiringi tanaman merambat yang langsung menjerat kaki dan tangan William.
“Huh, percuma saja. Perlawanan kalian sia-sia. uhuk,” ucap William yang terhenti ketika ia mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
“Kau melupakan kami berdua,” ucap Farel dan Abel.
“Dengan jarum emas milik Kak Rafa yang berhasil masuk ke tubuhmu saat pertarungan tadi, kami akhirnya bisa membalas perbuatanmu,” ucap Farel.
“Jangan bicara lagi. Hancurlah,” ucap Abel disertai teriakan William.
William memuntahkan begitu banyak darah segar ketika organ-organ dalamnya dihancurkan oleh Abel dan Farel. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, William mengatakan beberapa kalimat.
“Ini hanya permulaan saya. Ia akan menemui kalian, mengambil kembali kekuatannya. Kalian tidak akan hidup lebih lama lagi, para Servan,” ucap Wiliam lalu tubuhnya menghilang secara perlahan dan musnah.
Tamat
