Oleh: Adit Anugrah Pratama
Pengalaman pertama saya menjadi juri dalam Pemilihan Putera Puteri Kota Makassar 2025 adalah sebuah perjalanan yang tak hanya membuka mata, tetapi juga memperkaya hati. Sejak memasuki ruang penjurian, saya bisa merasakan aura semangat para finalis yang memadukan kepercayaan diri, keramahan khas Makassar, serta tekad kuat untuk menjadi representasi terbaik kota ini.
Pada sesi perkenalan, saya terkesan melihat betapa beragamnya latar belakang para peserta. Ada yang datang dari dunia pendidikan, seni, teknologi, hingga aktivisme sosial. Masing-masing membawa cerita unik yang mencerminkan wajah Kota Makassar yang modern namun tetap menjunjung tinggi budaya.
Saat sesi wawancara mendalam dimulai, saya menyadari bahwa tugas seorang juri bukan sekadar menilai, tetapi juga memahami potensi setiap individu. Ada momen ketika seorang finalis berbicara tentang mimpinya mengangkat sektor pariwisata pesisir Makassar, dan saya melihat kilau kejujuran dalam matanya. Momen-momen kecil seperti inilah yang membuat proses penjurian terasa begitu bermakna.

Tahapan penilaian berlangsung ketat, namun penuh kehangatan. Kami para juri saling bertukar sudut pandang, memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar adil dan berpihak pada kualitas serta integritas. Ketika akhirnya dua nama terpilih sebagai Putera dan Puteri Kota Makassar 2025, saya merasakan keharuan yang sulit dijelaskan. Ada kebanggaan tersendiri mengetahui bahwa saya turut serta dalam memilih generasi muda yang akan membawa nama kota ini ke tingkat yang lebih tinggi.
Pengalaman ini bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang belajar. Belajar melihat potensi, mendengarkan mimpi, dan menyaksikan bagaimana keberanian tumbuh dalam diri para pemuda-pemudi Makassar.
“Keindahan sebuah perjalanan tidak diukur dari seberapa jauh kita melangkah, tetapi dari seberapa banyak nilai yang kita tinggalkan di hati orang lain.”
Watansoppeng, 27 November 2025
