Oleh : Jusnia Paseba

365 hari bukan waktu yang singkat untuk melupakan kisah yang pernah singgah.

Ini kisah Clara Adelin, si pendiam yang tidak mudah bergaul di kalangan remaja dan kalangan mana pun. Orang-orang selalu memanggilnya Ara. Katanya, memanggilnya dengan sebutan Ara lebih simpel dibanding memanggilnya dengan sebutan Clara atau Adelin. Kalau bisa simpel, kenapa harus dibuat susah?

Ara yang pendiam dan tidak mudah bergaul ternyata memiliki kehidupan yang suram. Ibarat warna, Ara hidup di dalam naungan warna hitam. Gelap, tak ada cahaya yang menyinari.

Sampai suatu ketika, cahaya itu datang. Datang untuk menyinari Ara. Tetapi, cahaya itu tidak menetap untuk Ara.

365 hari cahaya itu menyinari Ara. Sampai saatnya cahaya itu harus meninggalkan Ara dan membuat kehidupan Ara kembali gelap, kembali berada dalam naungan warna hitam.

Suara sendal yang berpijak di atas tanah terus terdengar menghuni pendengaran Ara. Awalnya, Ara hanya biasa saja. Sampai rasa penasarannya sudah di ujung ubun-ubun. Ara memutuskan untuk mengecek keadaan di luar.

Orang-orang mulai berlarian menampakkan wajah cemasnya. Air wajah mereka seolah-olah berkata bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Suara tetangga berhasil mengalihkan atensi Ara.

“Mau kemana, Bu?” Tanya Ara pada tetangganya yang terlihat buru-buru.

“Anu Neng, ada kecelakaan di depan sana,” Ibu-ibu selaku tetangga Ara menunjuk ke depan gerbang kompleks.

Ara hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kembali masuk ke rumah dia tidak penasaran dengan kecelakaan saat ini. Ini bukan kecelakaan yang pertama kali terjadi. Ini adalah kecelakaan yang kesekian kalinya.

“ARA!”

Ara yang ingin masuk ke kamarnya terpaksa berhenti. Ara menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Di sana ada Mama yang menampilkan wajahnya sedikit cemas.

“Kenapa?” Tanya Ara saat Mama tak kunjung membuka suara.

“Ara tahu siapa korban tabrak di depan?”

“Ga tahu,” jawab Ara sembari menggeleng. Toh dirinya memang tidak tau siapa korbannya.

“Khanza,” jawab Mama singkat.

Satu nama yang keluar dari bibir Mama, berhasil membuat sekujur tubuh Ara menegang.

“Hah? Ga mungkin, Ma! Tadi Ara masih balik sekolah bareng Khanza. Ga mungkin, Ma!” kata Ara terus menggelengkan kepalanya.

Rasanya kabar ini terlalu lelucon untuk Ara. Why? Tadi Ara masih main sama Khanza, masih jalan bareng pulang rumah. Bahkan, Khanza masih sempat-sempatnya bercanda dengan Ara.

Percaya tidak percaya, Ara harus percaya. Hari itu, orang selalu ada untuk Ara, orang yang berhasil mengubah kehidupan Ara dari hitam menjadi penuh warna, gadis lucu yang selalu melakukan hal

konyol hanya untuk menarik perhatian Ara, pergi selamanya dari kehidupan Ara.

Khanza ingkar. Khanza bilang mereka akan sukses mewujudkan mimpi mereka sama-sama. Namun, nyatanya Khanza justru pergi lebih dulu. Bahkan, mimpi mereka belum terwujud.

Kehidupan Ara yang pernah berwarna kembali hitam pada hari itu.

365 hari mereka menjalani hari-harinya seperti bunglon, selalu berubah-ubah.

Bagi Ara, melupakan kisah pernah singgah tidaklah mudah. 365 hari mereka lewati dengan penuh candaan, membuat Ara merasakan ternyata memiliki seorang teman itu sangat menyenangkan.

Si pendiam Ara tidak mudah tersentuh, tidak mudah bergaul, dan tidak suka berbincang dengan orang lain. Khanza adalah orang pertama yang berhasil menarik perhatian Ara untuk berteman dengannya.

Khanza selalu memutar otaknya, memikirkan berbagai cara agar dirinya bisa berteman dengan si pendiam Ara. Sampai ketika insiden Khanza menolong Ara, membuat Ara perlahan menerima Khanza untuk masuk ke kehidupannya.

Nyatanya, setelah mereka memulai kisah dan menjalani kisah itu selama 365 hari, Khanza justru pergi duluan. Khanza yang memulai kisah ini. Khanza juga yang mengakhirnya.

***

Ara mengusap batu nisan yang ada di hadapannya. Rasanya seperti mimpi. Tetapi, ini nyata.

Dulu, Ara biasanya mengusap kepala Khanza, saat Khanza menangis akibat di teman kelasnya. Tetapi, sekarang ini Ara hanya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Khanza.

“Woi bangun, Za! Lo perginya jauh banget,” kata Ara memandangi batu nisan Khanza.

Ara tidak tahu sudah berapa lama Khanza pergi meninggalkannya. Yang Ara tahu, kepergian Khanza sangat mengubah kehidupan Ara.

“Dulu lo bilang mau daftar di kampus yang sama kayak gue. Sekarang mana? Justru lo pergi lebih dulu. Lo ga adil, Za. Seharusnya gue yang pergi duluan, Za. Hidup lo lebih cerah ketimbang gue.”

“Andai bisa gue minta tukar, gue bakalan tukar, Za. Lo di sini dan gue yang ada di dalam.”

Perpisahan yang terberat bukan perpisahan beda pulau atau negara, tapi perpisahan beda alam.

Ternyata benar, mengakhiri kisah tak seindah dengan memulai kisah. Seburuk apa pun cara orang-orang memulai kisahnya, mengakhiri adalah momen yang paling menyakitkan.


Ini kisah Clara Adelin, si pendiam yang tidak mudah bergaul di kalangan remaja dan kalangan mana pun. Orang-orang selalu memanggilnya Ara. Katanya, memanggilnya dengan sebutan Ara lebih simpel dibanding memanggilnya dengan sebutan Clara atau Adelin. Kalau bisa simpel, kenapa harus dibuat susah?

Ara yang pendiam dan tidak mudah bergaul ternyata memiliki kehidupan yang suram. Ibarat warna, Ara hidup di dalam naungan warna hitam. Gelap, tak ada cahaya yang menyinari.

Sampai suatu ketika, cahaya itu datang. Datang untuk menyinari Ara. Tetapi, cahaya itu tidak menetap untuk Ara.

365 hari cahaya itu menyinari Ara. Sampai saatnya cahaya itu harus meninggalkan Ara dan membuat kehidupan Ara kembali gelap, kembali berada dalam naungan warna hitam.

Suara sendal yang berpijak di atas tanah terus terdengar menghuni pendengaran Ara. Awalnya, Ara hanya biasa saja. Sampai rasa penasarannya sudah di ujung ubun-ubun. Ara memutuskan untuk mengecek keadaan di luar.

Orang-orang mulai berlarian menampakkan wajah cemasnya. Air wajah mereka seolah-olah berkata bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Suara tetangga berhasil mengalihkan atensi Ara.

“Mau kemana, Bu?” Tanya Ara pada tetangganya yang terlihat buru-buru.

“Anu Neng, ada kecelakaan di depan sana,” Ibu-ibu selaku tetangga Ara menunjuk ke depan gerbang kompleks.

Ara hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kembali masuk ke rumah dia tidak penasaran dengan kecelakaan saat ini. Ini bukan kecelakaan yang pertama kali terjadi. Ini adalah kecelakaan yang kesekian kalinya.

“ARA!”

Ara yang ingin masuk ke kamarnya terpaksa berhenti. Ara menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Di sana ada Mama yang menampilkan wajahnya sedikit cemas.

“Kenapa?” Tanya Ara saat Mama tak kunjung membuka suara.

“Ara tahu siapa korban tabrak di depan?”

“Ga tahu,” jawab Ara sembari menggeleng. Toh dirinya memang tidak tau siapa korbannya.

“Khanza,” jawab Mama singkat.

Satu nama yang keluar dari bibir Mama, berhasil membuat sekujur tubuh Ara menegang.

“Hah? Ga mungkin, Ma! Tadi Ara masih balik sekolah bareng Khanza. Ga mungkin, Ma!” kata Ara terus menggelengkan kepalanya.

Rasanya kabar ini terlalu lelucon untuk Ara. Why? Tadi Ara masih main sama Khanza, masih jalan bareng pulang rumah. Bahkan, Khanza masih sempat-sempatnya bercanda dengan Ara.

Percaya tidak percaya, Ara harus percaya. Hari itu, orang selalu ada untuk Ara, orang yang berhasil mengubah kehidupan Ara dari hitam menjadi penuh warna, gadis lucu yang selalu melakukan hal

konyol hanya untuk menarik perhatian Ara, pergi selamanya dari kehidupan Ara.

Khanza ingkar. Khanza bilang mereka akan sukses mewujudkan mimpi mereka sama-sama. Namun, nyatanya Khanza justru pergi lebih dulu. Bahkan, mimpi mereka belum terwujud.

Kehidupan Ara yang pernah berwarna kembali hitam pada hari itu.

365 hari mereka menjalani hari-harinya seperti bunglon, selalu berubah-ubah.

Bagi Ara, melupakan kisah pernah singgah tidaklah mudah. 365 hari mereka lewati dengan penuh candaan, membuat Ara merasakan ternyata memiliki seorang teman itu sangat menyenangkan.

Si pendiam Ara tidak mudah tersentuh, tidak mudah bergaul, dan tidak suka berbincang dengan orang lain. Khanza adalah orang pertama yang berhasil menarik perhatian Ara untuk berteman dengannya.

Khanza selalu memutar otaknya, memikirkan berbagai cara agar dirinya bisa berteman dengan si pendiam Ara. Sampai ketika insiden Khanza menolong Ara, membuat Ara perlahan menerima Khanza untuk masuk ke kehidupannya.

Nyatanya, setelah mereka memulai kisah dan menjalani kisah itu selama 365 hari, Khanza justru pergi duluan. Khanza yang memulai kisah ini. Khanza juga yang mengakhirnya.

***

Ara mengusap batu nisan yang ada di hadapannya. Rasanya seperti mimpi. Tetapi, ini nyata.

Dulu, Ara biasanya mengusap kepala Khanza, saat Khanza menangis akibat di usili teman kelasnya. Tetapi, sekarang ini Ara hanya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Khanza.

“Woi bangun, Za! Lo perginya jauh banget,” kata Ara memandangi batu nisan Khanza.

Ara tidak tahu sudah berapa lama Khanza pergi meninggalkannya. Yang Ara tahu, kepergian Khanza sangat mengubah kehidupan Ara.

“Dulu lo bilang mau daftar di kampus yang sama kayak gue. Sekarang mana? Justru lo pergi lebih dulu. Lo ga adil, Za. Seharusnya gue yang pergi duluan, Za. Hidup lo lebih cerah ketimbang gue.”

“Andai bisa gue minta tukar, gue bakalan tukar, Za. Lo di sini dan gue yang ada di dalam.”

Perpisahan yang terberat bukan perpisahan beda pulau atau negara, tapi perpisahan beda alam.

Ternyata benar, mengakhiri kisah tak seindah dengan memulai kisah. Seburuk apa pun cara orang-orang memulai kisahnya, mengakhiri adalah momen yang paling menyakitkan.


(Visited 56 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *