Oleh: Asmadina*

“Apa-apaan kamu!! Kenapa nilaimu cuma segini, hah?!”

Bentakan keras itu menggema dari dalam rumah. Jordan, ayah Alara, memandang tajam ke arah anak perempuannya yang berdiri gemetar sambil memegangi kertas ujian.

“Mau jadi apa kamu kalau nilai kamu begini?!”

Suasana di dalam rumah begitu mencekam. Tak ada suara lain selain bentakan dan deru napas yang mulai tercekat. Ibu Alara telah tiada beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Alara tumbuh dalam kekurangan kasih sayang. Kehangatan rumah berubah menjadi tekanan.

“Hiks… hiks… maaf, Yah,” jawab Alara lirih sambil menahan tangis. “Aku juga sedang berusaha, Yah… hiks….”

Jordan mencibir keras. Dengan kasar, ia melempar kertas ujian Alara ke lantai. Angka 90 tercetak jelas di sudut atas halaman—nilai yang sebenarnya sangat baik, tapi tidak bagi ayahnya.

“Berusaha?! Ini yang kamu bilang berusaha?!!” serunya lagi. “Nilai segini kamu anggap usaha?!”

Alara, yang sejak tadi menangis di lantai, hanya bisa terdiam. Matanya sembab, hatinya remuk. Dia bahkan belum sempat duduk setelah pulang sekolah. Belum sempat melepas lelah setelah ujian matematika tadi siang.

“Kenapa diam aja?! Jawab!!” bentak ayahnya lagi. Tiba-tiba, ia menarik lengan Alara dan memaksanya berdiri.

“Masuk kamar! Dan perbaiki lagi nilai kamu!” perintahnya sambil mendorong tubuh mungil Alara ke dalam kamar. Pintu kamar ditutup keras. Sunyi. Hanya suara isak tangis pelan yang terdengar dari balik pintu itu.

Alara terduduk lemas di kursi belajar. Tubuhnya lelah, pikirannya penat. Tapi, seperti biasa, tak ada yang peduli.

Ting…

Sebuah notifikasi terdengar dari atas kasur. Alara perlahan bangkit, mengambil ponselnya, dan membuka pesan masuk.

“Hey Alara, kamu nggak apa-apa?”
“Aku tahu kamu pasti dimarahin sama bokap kamu, kan?”

Itu pesan dari Liaa, sahabat terbaik Alara. Satu-satunya tempat Alara bisa mencurahkan isi hatinya. Liaa tahu segalanya. Dia tahu betapa kerasnya Jordan pada putrinya, dan bagaimana Alara selalu dihukum jika tidak mendapat nilai sempurna.

“Iya, Liaa. Aku kena marah lagi. Tapi aku baik-baik aja kok,” balas Alara dengan cepat, walau matanya masih berkaca-kaca.

“Kamu harus kuat, Alara. Aku tahu kamu bisa. Besok kita ada ujian lagi, kan? Itu kesempatan kamu buat buktikan ke ayah kamu. Aku yakin kamu bisa dapet nilai sempurna.”

Alara membaca pesan itu berulang kali. Perlahan, semangat dalam dirinya mulai tumbuh kembali. Meski tubuhnya lelah, hatinya luka, tapi ia tahu ada seseorang yang percaya padanya.

Malam itu, Alara duduk kembali di meja belajar. Ia membuka bukunya dan mulai belajar dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya untuk nilai, tapi untuk membuktikan bahwa ia mampu, untuk dirinya sendiri, untuk Lia, dan meskipun terasa berat untuk ayahnya juga.

*Penulis adalah Siswi SMKN 3 Kolaka Utara

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *