Oleh: Afifa Aila

Pernahkah kalian berpikir untuk membalas perbuatan seseorang terhadap kalian? Mungkin tidak semua orang memiliki pemikiran seperti itu. Namun, berbeda denganku. Aku selalu bertanya-tanya, haruskah kita membalas perbuatan seseorang terhadap kita, bukan hanya perbuatan baik, tetapi juga perbuatan yang membuat kita merasa tidak nyaman?

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk melakukannya. Namun, semakin aku memikirkannya, semakin pertanyaan itu menghantui pikiranku. Dan ternyata, setelah aku melakukannya, semuanya tidak semudah yang kubayangkan. Orang-orang mulai memandangku dengan buruk karena sikapku terhadapnya.

Padahal, aku tidak melakukannya tanpa alasan. Sudah banyak luka yang membuatku menjadi seperti ini. Aku berpikir bahwa aku tidak boleh terus-menerus diam, karena saat kita hanya diam, kita akan terus dijatuhkan. Namun, yang kulakukan justru berbalik arah, bukannya dihargai, aku malah dianggap sebagai seseorang yang buruk, munafik, bermuka dua, bahkan disebut iblis dan ular.

Aku menjadi seperti ini bukan tanpa alasan. Semua ini terjadi karena perlakuannya terhadapku. Jika dia bersikap baik kepadaku, tentu aku tidak akan berbuat jahat kepadanya. Namun, aku juga tidak ingin terus-menerus diperlakukan seperti orang bodoh. Aku tidak ingin berada dalam pertemanan yang hanya menguntungkan satu pihak. Dari situlah aku merasa tidak nyaman.

Sebenarnya, aku tidak mencari validasi. Aku hanya ingin kalian bisa lebih menghargai perasaan seseorang agar mereka tidak tersakiti.

Watansoppeng, 19 Maret 2025

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *