Oleh: Amara Nasifa*

Acara Maulid kali ini dilaksanakan tepat pada tanggal 29 September setelah salat Jum’at. Desa di sini memang melaksanakan maulid secara bergantian, mungkin agar warga di daerah yang berbeda bisa berkunjung ke daerah lain untuk menghadiri acara maulid. Tahun ini acara peringatan Maulid Nabi terasa lebih menarik. Sejak pagi sampai hampir adzan Dhuhur tiba, warga di desaku berbondong-bondong datang membantu anak pesantren membersihkan serta merapikan lingkungan masjid. Tidak sampai di situ, ibu meaelis juga membantu menyediakan makanan untuk disuguhkan di akhir acara Maulid nantinya.

Nah, di desaku biasanya sebelum acara maulid dimulai, anak-anak pesantren mempersembahkan sholawat nabi, nasyid, dan qasidah untuk menyambut para tamu dari daerah lain. Kali ini adikku juga turut ikut untuk mempersembahkan sebuah lagu. Sekitar sepuluh menit sebelum sholat Jum’at, adikku sudah berangkat ke masjid untuk sekadar latihan dan bersiap-siap. Sedangkan aku dan mama akan menyusul setelah sallat Jum’at agar tidak terlalu lama menunggu. Lagi pula tidak mungkin aku melewatkan penampilan adikku yang baru pertama kali membawakan lagu di acara seperti ini. Setelah siap, aku dan mama berangkat ke masjid dengan berjalan kaki, biar hemat bensin kata mama. Jarak rumah ke masjid memang tidak terlalu jauh. Salat Jum’at sudah selesai lima menit yang lalu, sebelum suara seorang anak laki-laki melantunkan sholawat yang terdengar dari atas menara. Memasuki gerbang masjid, aku dan mama melangkah masuk dan seketika disuguhi pemandangan orang-orang muslim yang berlalu lalang. Aku pikir, sepertinya maulid kali ini memang lebih ramai dari biasanya.

Aku dan mama langsung mengambil tempat duduk agak depan agar dapat melihat jelas ketika adikku tampil. Lantunan sholawat tadi juga sudah berakhir tepat aku dan mama masuk ke dalam masjid. Suara instruksi terdengar dari bapak panitia yang menyarankan agar para warga yang ada di luar untuk masuk duduk menyaksikan. Selanjutnya yaitu persembahan qasidah oleh santriwati, rupanya adikku yang membawakan lagu pertama. Suaranya cukup merdu walau agak terdengar serak, lagunya juga sukses membuat para tamu terharu. Setelah selesai, panitia pun membuka acara dilanjutkan dengan hikmah maulid. Ceramah yang dibawakan bertema sifat-sifat nabi, asiknya ketika sang ustadz selalu menyelipkan candaan dan membuat ibu-ibu berseru. Bahkan, ustadz mengadakan quiz dadakan berhadiah untuk santri.

Sampai istirahat tiba, aku dan mama menuju ke samping masjid untuk menyantap sop buatan ibu majelis. Saking ramainya, kursi yang disediakan tidak genap. Alhasil, ada yang makan sambil jongkok atau lesehan di lantai. Suasana sangat ramai, ada yang bersenda gurau, dan memperebutkan telur maulid. Setelah makan, aku dan mama bergegas pulang dan istirahat. Hari ini aku mendapat banyak nasihat dan renungan dari ceramah yang kudengar. Semoga acara seperti ini terus diperingati setiap tahunnya.

(Visited 90 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *