Oleh: Alfian Mubarak*
Ketika aku mempunyai masalah yang begitu berat, aku hanya bisa mengeluh kepada ibu. Ibulah yang selalu ada jika aku mempunyai masalah. Hanya Ibu yang mengerti tentang diriku. Ibu menyuruhku ke dapur untuk diberi tahu bagaimana bisa menyelesaikan sebuah masalah. Lalu ibu mengambil garam, gelas, panci, dan air.
Ibu berkata” lihatlah lebih cermat nak. Coba kamu masukkan garam itu ke dalam gelas sebanyak 5 sendok dan beri air, lalu cicipilah rasanya”. Iya bu, rasanya sangat asin,” jawabku. Lagi-lagi ibuku berkata “Nak, coba kamu masukkan garam ke dalam panci sebanyak 5 sendok dan beri air, cicipi lagi rasanya.” “Rasanya sama seperti yang di gelas tadi, sangat asin,” jawabku lagi. Ibuku berkata lagi,” coba kamu bayangkan kalau kamu lemparkan ke dalam danau garam sebanyak 5 sendok, apakah airnya juga asin? Aku menjawab, tidak Bu”.
Nak coba kamu perhatikan air danau seperti apa.” Sangat tenang Bu, jawabku.
Nak, jika kita seperti gelas yang diisi air dan di beri 5 sendok garam, maka rasanya akan asin, begitu juga jika kita seperti panci yang diisi air dan diberi 5 sendok garam maka akan asin juga.Tetapi jika kita seperti danau yang diberi garam 5 sendok maka rasanya akan hambar dan tawar.
Jika kita menyelesaikan masalah secara emosi, maka masalah itu akan semakin besar. Tetapi jika kita menyelesaikan masalah secara tenang, maka masalah itu akan selesai.
*Penulis adalah siswa SMPN 1 Kolaka Utara
