Oleh : Ridho Putra*
Masih terbayang di benakku betapa malunya saat itu, dimana seharusnya aku bangga dan ceria karena berhari-hari saya menantikannya, tapi malah menjadi sesuatu yang memalukan.
Sebulan melalui dua kali interview dan setelah tiga hari menjalani masa LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) di Mifan Padang Panjang dan ke Payakumbuh bertemu dengan OSIS SMA Negeri 1 Harau. Inilah saat yang akan ditunggu-tunggu dimana saya dilantik menjadi pengurus OSIS.
Dua hari sebelum pelantikan pengurus OSIS, kami dilatih oleh purna OSIS baris berbaris untuk persiapan acara pelantikan. Rasanya begitu melelahkan harus latihan sampai malam. Tiba di rumah, saya langsung terkapar di ranjang yang empuk membayangkan apa yang selalu kutunggu-tunggu.
Hari yang dinantikan itu pun telah tiba. Aku merasa senang dan mulai bersiap-siap berangkat ke sekolah. Tetapi kenyataannya, saya harus berpisah dari barisan sehingga tidak bisa mengikuti pelantikan walaupun saya tetap dilantik. Aku merasa malu karena hanya salah seragam yang membuat saya terpisah dari barisan.
Aku mulai menyalahkan si dia, si ini, si itu. Sesungguhnya, bukan mereka yang salah. Namun akulah yang salah. Saya sendiri yang tidak menyimak dan mendengar informasi dengan baik serta tidak bertanya informasi tersebut kepada yang lain. Saya terlalu bergantung dengan orang lain yang membuat saya menjadi seperti ini.
Kejadian itu masih terbayang di benakku sampai sekarang walaupun semuanya sudah berlalu. Aku akan menjadikan itu sebagai pengalaman dan semoga di hari esok tidak akan terjadi lagi. Pengalaman adalah guru yang paling berharga.
*Siswa SMAN 1 Nan Sabaris
