Selalu saja muncul perasaan itu dalam diriku. Aku merasa tak pantas menjadi anak pertama. Semua itu karena aku menilai sikapku yang terlalu kekanak-kanakan, pikiranku yang masih terlalu bocah, sampai emosiku yang terkadang tidak bisa terkontrol. Jika sedang emosi, aku tidak bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Hal yang aku pikirkan ketika emosi adalah kekerasan. Ya, kekerasan.
Keras kepala juga termasuk salah satu sifatku yang menurun dari ayah. Memang benar ya kata pepatah, “Buah Jatuh, Tak Jauh Dari Pohonnya.” Begitu pun sifat yang aku miliki dan ayah hampir sama. Aku memang sering tertawa lepas dan bahagia, tapi itu hanya di sekolah dan tempat-tempat tertentu. Namun, jika di rumah, aku seperti orang yang berbeda. Mengapa seperti itu? Mari aku ceritakan.
Jadi, ketika aku sudah di rumah, sifatku cenderung lebih diam, bahkan jarang berbicara sama sekali, karena di rumah semuanya sibuk dengan handphone. Aku juga sering menangis ketika malam. Terkadang aku menangisi hal-hal yang sepele saja,hal yang tidak terlalu penting. Namun, kadang juga aku menangisi omongan orang-orang yang jahat. Aku tidak tau mengapa teman-temanku sering mengejek fisikku. Mulai dari mengatai aku gendut, gajah, dan hal lain yang tak pantas untuk disebut.
Aku kadang berpikir, “Apakah fisikku sejelek itu? Sampai-sampai mereka mengatakan hal yang menyakiti perasaanku. Mengapa mereka membenci aku? Atau memang wajar mereke membenciku karena aku sendiri lebih membenci diriku.
Aku menceritakan hal yang tidak nyambung ya? Maaf, aku hanya ingin mengeluarkan segala keluh kesah yang ada di hatiku selama ini. Masih banyak yang mau aku ceritakan, tapi aku akan pendam saja. Mungkin suatu saat aku akan menceritakannya.
Jangan menyerah ya? Kita berjuang bersama. Aku juga harus semangat dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Tidak ada yang lebih mengerti diri kita, kecuali diri kita sendiri. So, love yourself.Be yourself. Never underestimate yourself.
Watansoppeng, 15 November 2022
