Oleh : Angraeni Ramadhani

Kenapa di keluargaku sangat dilarang melakukan sesuatu kegiatan yang di luar rumah? Kenapa aku terlalu di tekan? Kenapa mereka berpikir aku masih anak-anak? Padahal kenyataannya aku sudah remaja. Mereka terlalu mengekang diriku. Aku juga ingin kebebasan. Aku ingin bahagia seperti halnya semua anak bisa merasakan keluarga cemara. Namun, tidak semua anak bisa merasakan keluarga cemara seperti yang aku impikan.

Aku ingin disayang. Aku ingin kebahagiaan. Namun, malah bentakan dan pukulan yang aku terima. Bahkan aku juga menerima perlakuan dari ayah yang membuatku trauma. Seorang ayah adalah cinta pertama putri kecilnya. Namun, dia telah merusaknya. Dia telah membuat putri kecilnya trauma terhadap dirinya. Dia membuat putri kecilnya terus menerus merasakan sakit.

Ketika adiknya yang bersalah, kakaknyalah yang menjadi amukan ayahnya. Kakaknyalah yang menjadi pelampiasan amarah ayahnya jika mabuk. Aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin orang tuaku menyayangiku dan tidak membentak bahkan memukuliku.

Setiap pagi aku harus merasakan pukulan dari ayah hanya karena marah akibat perbuatan adikku. Aku hanya ingin bebas. Aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang. Aku berharap penuh untuk ini.

Semoga hari-hariku akan semakin cerah bersama orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku pula dengan tulus.

Watansoppeng, 14 November 2022

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *