Oleh: Andi Khadijah Azzahra

Aku teringat kembali pada memori kala itu. Saat di mana aku gembira dengan sepeda baru. Tak pusing memikirkan tentang hiruk-pikuk kehidupan yang tak kunjung usai.

“HUAAAA…. BUNDAAAA” aku berteriak keras dan berlari mencari bunda. Aku tidak lagi memperhatikan sepedaku yang tergeletak di halaman rumah.

“Ya ampun.. Anak manis Bunda kenapa?” kata Bunda sambil merentangkan tangannya bersiap untuk memelukku.
“T-tadi A-ara kan naik sepeda, t-tapi Ara kesandung dan jatuh. HUA BUNDAA , lutut Ara ada darahnya!”

“Astaga, sayangnya Bunda, sakit ya?” Kata Bunda sambil mengusap air mataku dan mengelus rambutku. Perlakuan sederhana Bunda memang tidak pernah gagal membuatku merasa tenang dan nyaman.

Aku menghabiskan tahun-tahun berikutnya bersama Bunda dengan kelembutan yang masih sama. Hingga pada saat aku beranjak dewasa dan terpaksa berpisah dengannya sementara waktu demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas impianku.

“Bunda, Kiara berangkat sekarang, ya.”
“Hati-hati ya, anak Bunda. Salatnya jangan ditinggal. Makan yang teratur, istirahat yang cukup. Bunda sayang Kiara.”
“Kiara juga sayang Bunda! Pamit ya, Bun”

Kupikir, kehidupan kuliahku akan berjalan dengan baik-baik saja. Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Tidak kusangka, kehidupanku tanpa Bunda akan seberat ini. Memang betul Bunda masih sering menelponku menanyakan kabar. Namun, tak jarang aku hanya berakhir menangis sendirian di kamarku akibat masalah yang terus datang. Dimulai dari lingkaran pertemanan yang tidak tulus, dosen galak, sampai masalah keuangan.

“Ah.. ingin pulang rasanya” Keluhku. Aku sudah muak dengan semua tumpukan jurnal yang berserakan di meja belajarku. Di saat-saat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah kasih Bunda. Karena semenjak pandemi, aku sudah terjebak selama 2 tahun di kota ini.

“Sebentar lagi ramadhan, ya? Ya Allah, semoga tahun ini aku sudah bisa mudik..”

Aku mencoba mengalihkan pikiranku sejenak, dengan membuka media sosial di smartphoneku. Muncul satu unggahan yang menarik perhatianku. Unggahan itu berisi tentang informasi bahwa tahun ini, bandara sudah bisa digunakan kembali.

“Alhamdulillah!” aku senang bukan kepalang. Akhirnya, setelah penantian yang panjang ini, rinduku kepada Bunda akan lepas. Dengan uang tabunganku yang seadanya, aku segera membeli tiket. Bunda, aku pulang.

“Tok tok tok! Assalamualaikum” Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Samar-samar aku mendengar derap langkah kaki dari dalam rumah “Waalaikumussalam”

“Kiara?” “Bunda!”
Tanpa pikir panjang, aku langsung mendekap Bunda erat. Kehangatan pelukan yang selama ini kurindukan, akhirnya dapat kembali aku rasakan.

Sekali lagi, pelukan Bunda memang tidak pernah gagal membuatku merasa tenang dan nyaman. Waktu berlalu, namun Bunda masih sama seperti dulu. Bunda, bagaikan danau. Bunda mampu menenangkanku kapanpun. Bunda selalu menghiburku. Bunda menjadi tempatku menampung segala keluh kesahku. Bunda, adalah sumber kehidupanku.

Seberapa jauh pun jarak di antara aku dan Bunda, ikatan kami seakan dihubungkan oleh seutas tali yang tak terlihat. Bunda akan selalu menjadi kisah cinta sejatiku yang sesungguhnya. Seberapa jauh pun kami terpisah, Bunda akan selalu menjadi tempat terbaikku untuk pulang, rumah yang paling nyaman.

Watansoppeng, 25 Maret 2022

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *