Oleh: Aprilla Harlina
“Untuk apa Tuhan menciptakan kegagalan? Agar manusia mau berusaha. Dan untuk apa Tuhan menciptakan kesuksesan? Karena manusia takut akan kegagalan.”
Kalimat itu selalu berputar di benakku. Seperti sebuah kalimat yang tak berujung, tak bertepi. Hanya dari kata gagal, manusia akan berusaha untuk mencapai kesuksesan, dan dari kata sukses, manusia akan menghindar dari kegagalan.
Hari ini adalah hari terakhir ujian semester di sekolahku. Aku yang selama ini bersekolah dengan penuh semangat, merasa semester ini tidak sama seperti sebelumnya. Usahaku terasa hambar, dan rasanya aku sudah bisa menerka.
Melihat orang-orang memuji temannya yang mendapatkan nilai tinggi, rasanya aku juga ingin merasakan hal itu. Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri:
“Apakah aku selama ini telah dibodohi?”
“Apakah aku terlalu haus akan validasi?”
“Apakah aku terlalu malas?”
Sering aku bertanya dalam hati:
“Mengapa orang lain, ketika dipuji, eksistensi mereka tetap sama, sedangkan diriku?”
Aahh…
Lelah, pusing, marah, takut bercampur aduk menjadi satu. Dalam benakku, aku takut jika tidak lagi berada di posisiku yang sebelumnya.
Memang, tidak ada yang memaksaku untuk melakukan semua ini bahkan orang tuaku pun tidak. Namun, aku memiliki prinsip bahwa dengan belajar, nasibku akan berubah di kemudian hari.
Tidak ada yang bisa kusalahkan dalam hal ini. Hanya diriku sendiri.
