Oleh : Ryan Hidayat
Aku adalah orang paling malas di sekolah. Setiap ada tugas yang belum kuselesaikan aku tidak ke sekolah dengan alasan sedang sakit. Hampir semua guru tidak menyukaiku. Karena mungkin mereka sudah tahu dengan alasan sama yang sering aku berikan. Tetapi, entah kenapa, ada seorang guru memberikan motivasi kepada saya untuk tidak malas-malasan lagi dan terus memotivasi untuk belajar dan selalu disiplin. Dia selalu mengatakan pada semua siswa di kelas pada saat menutup mata pelajarannya, “Bahwa kunci dari pada kesuksesan kalian ada pada usaha kalianĀ semua. Guru hanya membantu menemukan potensi kalian dan semua itu harus diawali dengan niat melalui sikap disiplin,”katanya.
Bentuk kepedulian dari guruku ini dilakukan dengan mengajak saya memasuki berbagai organisasi yang ada di sekolah seperti OSIS, pramuka, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari, tepatnya pada hari Selasa, saya ingin pergi ke perpustakaan mengambil buku untuk melanjutkan catatanku yang belum selesai. Pada saat ingin kembali ke kelas, aku tidak sengaja mendengar percakapan guruku.
Salah satu guruku mengatakan pada saat itu,” Kita tidak bisa membenci anak yang melakukan kesalahan, karena andaikan hal itu kita lakukan, maka suatu saat nanti kita semua akan membenci diri kita sendiri, karena pasti di antara kita semua ini pernah melakukan yang namanya kesalahan.
Salah seorang guru perempuan, entah siapa karena saya tak melihatnya hanya mendengar suaranya saja, membenarkan perkataan itu dengan mengatakan,” Jika memang ada niat untuk berubah, pasti kita semua bisa berubah, tetapi jika sebaliknya mungkin kita tidak akan bisa berubah, dalam hal ini kita sama halnya dengan siswa. Hanya saja kita lebih dulu lahir dari mereka sehingga kita yang mendapat amanah untuk mendidik anak-anak kita tapi perasaan kita sama. Sungguh kata-kata yang membuat aku penasaran, siapa sebenarnya orang itu tadi.
Tidak terasa bel pulang sudah berbunyi. Pada saat perjalanan pulang, entah mengapa perkataan guruku tadi selalu muncul di pikiranku. Pada hari itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak malas-malasan lagi dan tetap memperhatikan tugas-tugas dari semua guru. Karena ternyata, yang kusangka guru membenciku selama ini, tetap memberikan perhatian di belakangku. Ini benar-benar di luar dari dugaanku. Terima kasih untuk semua guruku. Sehat selalu. Semoga Tuhan meridhoi niat baik para pahlawanku. Aamiin.
Penulis adalah Siswa dari SMP Swasta Haji Agussalim Katoi.
