Paruh
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Aku mematuk langit sampai uratnya putusTerjungkal sudah pagi, kian berbau besiDunia menggeram mampusPuingnya dingin dan sendiri Kumandang tak pernah benar-benar habisTenaga terkikis, gerak pun basiTak ada…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Aku mematuk langit sampai uratnya putusTerjungkal sudah pagi, kian berbau besiDunia menggeram mampusPuingnya dingin dan sendiri Kumandang tak pernah benar-benar habisTenaga terkikis, gerak pun basiTak ada…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Berjalan di antara sisa cahaya,menyusuri lorong waktu yang basah oleh diam.Udara menggigil, menahan gugur dari kata,sementara pikirannya bergetar di tepi nadi yang terlupa. Ia mencari arti…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani Saat sunyi dipeluk oleh takbir,Angin pelan-pelan menari di sela daun yang sabar,Sementara jejak ikhlas yang gemetar Hewan diuji, manusia diminta mengerti.Bahwa cinta tak selamanya memiliki,Terdapat cinta…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Kita lahir dari tangan yang sama,dibentuk rapi, sepasang jiwa.Langkah demi langkah kita jalani,menyusuri jalan, menari di bumi. Aku di kiri, kau di kanan,tak pernah jauh, selalu…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Hidup ini seumpama barisan kata.Berdansa di atas lembaran waktu.Koma berbisik di antara jeda, menahan langkah, tanpa menghilangkan jejak. Setiap koma adalah jeda harapan.Mengulur cerita dalam dekap…
By: Aisyah Nur Adhayani* If I could,I would want to be a butterfly I would ask the Cactus how it survivesAnd the Rose about its anger If I could,I would…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Aku tidak pernah belajar menghitung hariTapi ternyata, sudah sejauh iniBurung biru itu tidak lagi terlihat di jendelaKepompong di sana pun, sudah menjadi kupu-kupu Untukmu, teduh yang…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Ombak berbondong bondongMenyusuri arah selatan yangmelaju, cepat sekaliMengelilingi luas samuderaTerbentang pada birunya lautan Utara menyapa, kapal berhentiBerdiam diri sejenakMencari tahu, di mana?Pertanyaan yang berulangSeakan membuat sandiwara…
Oleh: Aisyah Nur Adhayani* Hari ini, Selasa menyapa RabuRabu tersenyum, sembari melihat detak nadi jam dindingJarum itu mengarah ke utara, berputar 90 derajatKeringat mungkin saja membanjir, tapi tersirat Relung jiwa…
Dalam hampa, kuterbaring pada ruang kesunyian itu.Alisku berkerut akan betapa tak bercoraknya ruang itu.Meski tak bisa kutelusuri, tak bisa kurangkul.Samar-samar rintihan hujan yang sedikit membara terdengar di indra pendengaranku. Tahun…
WhatsApp us