Di sebuah pemakaman umum, seorang wanita berpakaian serba hitam dengan sebuket bunga di tangannya sedang berdiri di depan salah satu makam. Wanita itu membungkuk meletakkan buket bunga tersebut dan mengelus nisan makam tersebut
“Van… udah 4 tahun kamu pergi ninggalin aku. Apakah kamu tau… aku sulit melupakanmu. Jika aku dapat memutar waktu, aku ingin melewati hari-hari bahagia itu lagi,” ujar wanita itu di depan makam seorang pria bernama Devan Alfaro yang wafat pada tanggal 27 maret 2015.
Pemuda tersebut meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat yang ia naiki. Pemuda itu meninggalkan orang tuanya serta tunangannya
“Van.. apa kamu tau gimana stresnya aku ketika kehilanganmu? disaat pemakamanmu, aku sangat sedih.”
Flashback
“Van… kamu bilang kita akan bersama. Buktinya mana Van. Kamu pergi ninggalin aku… Kamu bohong Van. Aku benci kamu, Aku benci”, ucap Felicia Aurelia sambil terisak di depan makam tunangannya
“Nak… kamu harus ikhlas. Ini sudah takdir. Kita gak bisa ngerubah ketentuan yang sudah di tentukan sang pencipta”, ucap Ibu Felicia menenangkan putrinya.
“Iya nak. Kamu harus ikhlasin Devan, walaupun nak Felicia gak jadi nikah sama Devan, tante sudah anggap nak Felicia anak sendiri”, ucap Ibu Devan.
“Tapi, .Devan ninggalin aku. Dia udah janji kalau dia akan jagain aku… hiks… t..tapi sekarang dia pergi…,”ucap Felicia.
“Sudahlah… Kamu harus sabar. Kamu harus menerima kenyataan,” ucap Ibu Felicia.
“Sebaiknya kita pulang.Kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Devan. Kamu harus jaga kesehatan. Kita pulang dulu. Kamu belum makan dari tadi malam. Kalau kamu sakit, Devan tidak bisa tenang di alam sana, dan juga jika melihat kondisimu seperti ini, Devan pasti sangat sedih,” ucap Ibu Devan.
Walaupun berat, Felicia mulai berdiri kemudian dengan berat hati dan perasaan tertusuk ribuan jarum yang tepat di hati, ia melangkahkan kaki secara perlahan meninggalkan makam Devan. Felicia sesekali berbalik untuk melihat makam tunangannya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Malam harinya, Felicia duduk di atas kasur sambil bersandar dengan memegang bingkai foto yang berisi foto mereka berdua yang sedang berlibur. Tak lama, rasa kantuk menghampirinya. Felicia secara perlahan menutup matanya yang bengkak akibat menangis seharian sambil memeluk bingkai foto itu.
***
“Untung ada mama dan ibu kamu Van yang selalu dukung aku. Van… aku selalu mencintaimu. Sangat sulit bagiku untuk melupakanmu,” ucap Felicia.
“Nona… nyonya sudah menunggu nona di rumah. Sebaiknya kita pulang segera,” ucap bodyguard wanita itu.
“Biarkan ibu menunggu. Aku baru kembali dari luar negri. Aku ingin mengunjungi satu tempat lagi”, ucap Felicia.
“Baik nona… apa pun yang nona katakan itu akan terlaksana. Bisa kita pergi sekarang?ucap Bodyguard tersebut.
“Baiklah…” ucap Felicia.. Felicia kemudian berdiri dan meninggal area makam menuju sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang pemakaman.
Setelah Felicia masuk kedalam mobil, bodyguardnya pun menyetirkan mobil sesuai arahan dari Felicia. Setelah beberapa saat mobil melaju di jalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah. Felicia turun dari mobil diikuti sang bodyguard.
“Kamu istirahatlah… di sekitar sini ada restoran yang makanannya enak. Aku ingin sendiri dulu. Ambil kartu ini dan belilah apa pun yang kamu mau,” ucap Felicia memberikan sebuah kartu atm kepada bodyguardnya.
“Tapi nona, Aku tidak bisa menerimanya,” ucap sang bodyguard.
“Sudahlah. Kau ini sahabatku Arga. Jangan selalu memanggilku nona. Aku geli mendengarnya,” ucap Felicia.
“Ya… mau bagaimana lagi… kau kan nona muda keluarga Alexander,orang terkaya di kota ini… jadi ya gini,” ucap Arga.
“Sudahlah…Kalau hanya ada kita berdua, kamu panggil aku seperti biasa aja, seperti saat kita kuliah dulu…,” ucap Felicia.
“Tapi..”
“Sudahlah… kamu pake kartu itu beliin barang buat pacarmu. Pacarmu juga sahabatku, jadi aku akan memanjakan sahabatku lewat dirimu…,” ucap Felicia sedikit tertawa.
“Kau ini. Baiklah aku pergi dulu.”
“Oiya… ngomong-ngomong… ini rumah Devan… tunanganmu dulu?
“Iya… lebih tepatnya rumah kami berdua. Kami membeli rumah ini dengan uang yang kami kumpulkan dari usaha kami sendiri.”
“Jadi seperti itu… kalau gitu aku pergi dulu dah”, ucap Arga masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan wanita itu di depan rumah tersebut.
Setelah Arga pergi, Felicia mendorong gerbang rumah dan berjalan menuju pintu depan. Di setiap langkah, Felicia kembali melihat kilas balik adegan bahagia dia dan Devan di halaman rumah.
Setelah sampai di depan pintu, Felicia mengambil kunci rumah dari dalam tas untuk membuka pintu. setelah pintu terbuka, Felicia melangkah masuk ke dalam rumah.
“Sudah 4 tahun aku tidak melihat rumah ini lagi. Pasti ibu Devan yang selalu membersihkan rumah ini…,” ucap Felicia sambil terus berjalan ke salah satu ruangan.
Felicia membuka pintu ruangan tersebut dan masuk kedalamnya. Felicia melangkah masuk ke dalam ruangan yang ternyata kamar Devan. Felicia melangkah ke depan sebuah lemari buku yang berada di sudut ruangan lalu mengambil sebuah buku dari sana.
Felicia mengambil sebuah buku lalu ia duduk di pinggiran tempat tidur sambil membuka buku itu. Buku tersebut adalah album yang berisi foto-fotonya dan Devan. Setiap momen bahagia mereka, semuanya tersimpan dalam buku tersebut.
Felicia membalik halaman satu persatu sambil mengingat kembali kenangan yang ia lewati bersama Devan. Kemudian, Felicia mengambil sebuah foto yang hanya Devan sendiri kemudian ia mulai mengeluarkan keluh kesahnya hingga kantuk datang menghampirinya. Ia pun tertidur sambil memegang selembar foto tersebut.
Tak lama, sebuah suara mencoba membangunkan Felicia dari tidurnya
“Fel… Felicia… bangun… udah jam berapa nih… katanya mau pergi belanja,” ucap seorang pemuda tampan membangunkan Felicia.
“Emmh… aku masih ngantuk Mah…”, ucap Felicia yang mengira jika yang membangunkannya adalah sang ibu
“Hah… Mah?… ini aku Devan bukan mamah…”, ucap Devan.
Mendengar nama Devan, Felicia langsung membuka matanya dan bangun dari tidurnya. ketika ia bangun, ia terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
“D..Devan… itu kau… hah aku seneng banget. Rupanya itu hanya mimpi,” ucap Felicia yang langsung memeluk Devan.
“Apa yang terjadi?… Apa kau mimpi buruk?” tanya Devan.
“Iya… aku mimpi kamu….,” ucap Felicia terpotong ketika ia melihat tanggal yang ada di atas meja
“13 Maret 2015, bukannya itu 4 tahun yang lalu? Mungkinkah itu bukan mimpi? batin Felicia.
“Hey… mengapa bengong,” ucap Devan melambaikan tangan di depan wajah Felicia.
“Nggak papa kok… aku siap-siap dulu,” ucap Felicia.
“Baiklah… aku akan menunggumu di ruang tengah…,” ucap Devan berjalan meninggalkan Felicia di dalam kamar.
Setelah Devan pergi, Felicia buru-buru mencari ponselnya.
“Ini beneran tanggal 13 Maret 4 tahun lalu. Apakah aku kembali ke masa lalu? atau aku hanya mimpi… aww,” ucapnya kesakitan ketika ia mencubit lengannya
“Ini bukan mimpi… selagi ada kesempatan, aku ingin mengubah masa depan. Aku masih memiliki 14 hari lagi,” ucap Felicia.
***
Penulis : Muh. Irwan ali
Kelas : 10
Asal Sekolah :SMAs HASKA
Kab : Kolaka utara
Kec : Katoi
