“Aaakh, nyari orang aja gak becus!” ucap Jerry melemparkan buku-buku di meja dalam kamarnya
“Tapi, Bos… kami sudah berusaha. Tapi gak bisa menemukannya,” ucap Derta, tangan kanan Jerry.
“Pokoknya kalian harus cari. bagaimanapun caranya, Karel harus ketemu!” sentak Jerry.
“Baik, Bos. Kami akan berusaha lebih keras. Permisi…” Derta pun perlahan meninggalkan kamar Jerry.
Jerry membuka laci meja, lalu mengambil sebuah buku yang ia pinjam di perpustakaan. Jerry membuka buku itu dan membaca isinya. Kemudian, dia mengambil sebuah foto dari sela-sela lembaran buku itu.
“Karel Adinata, gua pastiin hidup lu gak bakalan lama lagi…” gumam Jerry.
Dari luar kamar, dalam kegelapan seseorang memperhatikan Jerry. Orang itu tersenyum, kemudian pergi.
**
“Woy, bangun!” teriak Jerry membangunkan Lude.
“Ngapain lu? Mau bunuh gua? Ya udah bunuh aja!” ucap Lude yang masih berbaring di kasur dengan keadaan kaki dan tangan masih terikat.
“Gua lagi emosi dan gua bisa aja ngabisin lu sekarang. Tapi gua butuh informasi tentang Karel dari lu” ucap Jerry.
“Heh, lu nyari Karel? Gak bakalan lu temuin dia,” ledek Lude.
“Maksud lu apa?” Jerry agak kesal.
“Ngapain juga gua ngasih tau lu. Dia temen gua. Mana mungkin gua khianatin kawan gua?” jawab Lude.
“Lu udah gak sayang ama nyawa lu, ya?” ancam Jerry sambil menggores wajah Lude menggunakan pisau kecil kesayangannya.
“Heh, gua udah gak takut mati!” ucap Lude.
“Kalau gitu, gimana kalau yang mati dia aja?” ucap Jerry menunjukkan Lude sebuah video.
“Jangan sakiti keluarga gua. Mereka gak ada hubungannya!” Lude histeris dan mencoba melepas ikatannya.
“Hahaha, rupanya lu masih sayang ama keluarga lu. Tapi, kalau lu gak ngasih gua info tentang Karel selama dua puluh empat jam, lu bakal dengar kabar buruk.” Jerry terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Oke, gua jujur. Sebenarnya lima tahun lalu setelah meninggalkan tempat itu, Karel berpisah dengan kami. Karel bilang sampai ketemu di lain kesempatan.” jelas Lude.
Karena tidak mendapat jawaban yang ia inginkan. Jerry meninggalkan ruangan itu dengan kesal, lalu meraih telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.
“Eksekusi!!” ucap Jerry dengan nada emosi lalu menutup teleponnya.
Mendengar itu, Lude berteriak “Jerry lepasin keluarga gua! Gua kan udah ngasih tau lu!” teriak Lude sambil mencoba melepas ikatannya.
Ditempat lain, saat Derta akan mengeksekusi keluarga Lude, seseorang menghentikannya.
“Jangan bunuh mereka,” ucap laki-laki itu.
“Tapi ini perintah Jerry,” jawab Derta.
“Bilang saja kau sudah membunuh dan membakar tubuh mereka,” timpal laki-laki itu.
“Tapi..” Derta masih ragu.
“Tenang, dia akan percaya padamu,” laki-laki itu mencoba meyakinkan Derta.
“Baiklah, aku percaya padamu,” ucap Derta melepaskan ikatan orang tua dan adik Lude di kursi.
“Kalau begitu, saya permisi” ucap Derta meninggal rumah Lude.
“Sebaiknya kalian jangan melaporkan kejadian ini. Tenang saja, Lude aman di sana” ucap laki-laki itu lalu keluar dan kembali ke mobilnya.
Keesokan harinya.
“Jer, eh Rey! Aduh bingung gua, serah… Pokoknya bangun!” ucap Fiki menggoyangkan tubuh Jerry.
“Kenapa sih? gua ngantuk!” Jerry kesal.
“Buruan bangun, kita udah mau telat nih!” ucap Fiki yang direspons langsung oleh Jerry.
“Hah, serius lu? Kok lu telat bangunin gua sih!” ucap Jerry meninggalkan tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi.
Jerry dengan cepat berdandan “Yah, udah ganti peran, Bang!” ucap Fiki melihat Jerry memakai kacamata dan berdandan cupu.
“Oh iya gua lupa.” Jerry menyimpan kacamata kemudian mengacak rambutnya.
“Nah gitu, baru abang gua yang cool. Ya udah, buruan… Udah telat nih!” ucap Fiki.
“Iya bentar, sabar napa!” Jerry pun sewot.
Mereka keluar dari rumah yang besar itu lalu menaiki motor dan berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Jerry memarkirkan motor di parkiran yang sudah disediakan oleh sekolah.
“Rey, kayaknya ada yang nunggu lu tuh!” ucap Fiki menunjuk Amira.
“Jan ngaco, buruan lu masuk ke kelas. Gua juga mau ke kelas” ucap Jerry berjalan ke arah kelasnya.
“Kak Rey, aku punya coklat. Mau gak?” ucap Amira.
“Aku gak suka coklat, jadi makasih…” balas Reynal meninggalkan Amira di sana
“Kamu yang sabar yah.. Reynal emang gitu orangnya” ucap Fiki
“Bagaimana kalau coklatnya buatku saja?” sambung Fiki
“Yaudah kak.. coklatnya ambil aja.. dari pada mubazir” ucap Amira menyerahkan coklat tersebut kepada Fiki
“Makasih ya” ucap Fiki melambaikan tangan kepada Amira dan pergi menyusul Reynal.
**
Di sebuah rumah yang besar dan jauh dari penduduk. Seorang laki-laki yang terbilang masih muda berdiri di balkon sambil memegang secangkir jus. laki-laki itu menatap pemandangan hutan di sekitar tempatnya berdiri.
“Hutan yang indah. Suasanya damai dan juga sangat nyaman.”
“Tuan… ini informasi yang kau minta” ucap seorang pria bernama Lendra
“Sepertinya aku memang harus segera bertemu dengannya” gumam pria itu ketika membaca dokumen yang di berikan Lendra
“Apa yang akan tuan muda lakukan?” tanya Lendra
“Karena ia sangat mencari pria ini… aku akan menemuinya menggunakan nama orang ini… tugas kalian adalah menyebarkan rumor tersebut… dengan begitu ia akan menemuiku sendiri” ucap pria tersebut
“Baiklah akan saya laksanakan… kalau begitu saya pamit tuan muda” ucap Lendra
“Baiklah… terima kasih tuan Lendra.. karena selalu mendukungku” ucap pria itu
“Sudah kewajibanku tuan muda.. keluargaku sangat berhutang budi pada keluarga tuan muda… dan hanya dengan begini aku bisa membalas kebaikan dari keluarga tuan muda” ucap Lendra
“Baiklah.. paman boleh pergi.. jangan lupa istirahat.. paman jangan terlalu memaksakan diri” ucap pria itu
Setelah itu, Lendra keluar dari kamar pria itu. Kemudian pria itu berbalik badan dan masuk kedalam kamar lalu berhenti di pinggiran tempat tidur sambil sambil menatap sebuah foto terpajang di dinding atas tempat tidurnya.
“Jerry, gua harap lu secepatnya nemuin gua. Gua udah gak sabar ketemu ama lu” ucap pria itu sambil memandang foto Jerry di dinding kamarnya dengan bingkai yang besar.
