Januari bukanlah nama bulan tetapi Januari adalah JAfira, Naura, ARIn, yang disingkat menjadi “Januari”. Tiga gadis remaja yang sudah bersahabat selama 16 tahun, bukan lagi sahabat tapi mereka terlihat seperti saudara kembar. Mau pergi kemana saja mereka selalu bersama dan mengenakan pakaian yang sama.
Mereka tinggal bersama dengan seorang malaikat tak bersayap yang telah rela dengan penuh kasi dan sayang mengurus ketiga gadis remaja ini dari mulai balita hingga tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan mandiri. Dia adalah Ibu Dewi yang merupakan ibu kandung Naura yang telah bersedia mengangkat dua anak korban dari bencana gempa yang telah kehilangan kedua orangtuanya dan menjadi yatim piatu yaitu Jafira dan Arin yang seumuran dengan anaknya.
Ibu Dewi tidak pernah membeda-bedakan Naura anak kandungnya dengan Jafira dan Arin anak angkatnya.
“Januari….” teriak ibu Dewi memanggil putri-putrinya, karena suka belepotan ketika memanggil satu persatu nama putrinya, ibu Dewi membuat singkatan untuk Jafira,Naura,Arin menjadi Januari.
“Iya bu, kami datang!” jawab mereka kompak.
“Ibu udah pulang, pasti capek kan? ini Arin bawain air untuk ibu,” kata Arin menyodorkan segelas air minum untuk ibunya.
“Makasih yah nak, sini semuanya duduk dekat ibu,” kata ibu Dewi menarik tangan putrinya.
“Aku tebak pasti ibu punya sesuatu untuk kita bertiga kan?” kata Naura melihat ibunya memegang sesuatu di tangannya.
“Anak ibu memang pintar kalau soal hadiah yah? hehe,” jawab ibu Dewi sedikit tertawa.
“Ibu ada sedikit uang, jadi tadi di pasar ibu beli kalung liontin untuk kalian bertiga,”
“Wah.. cantik banget bu, maksih yah kami sayang banget sama ibu,” ucap Jafira tak kuasa menahan air matanya dengan terus memandangi kalung pemberian ibunya.
“Iya ini cantik banget, makasih ya bu. Ibu gak pernah membedakan kita bertiga walaupun aku sama Jafira bukan anak ibu,” kata Arin dengan memeluk ibu Dewi, di susul Naura dan Jafira.
“Kata siapa kalian bukan anak ibu? ibu gak pernah menganggap kalian sebagai anak angkat tapi kalian itu seperti Naura anak kandung ibu. Kalian berdua itu juga putri ibu dan ibu sayang banget sama kalian, walaupun darah ibu tidak mengalir di tubuh kalian,” jawab ibu Dewi memeluk ketiga putrinya.
“Nak, kalian sudah tumbuh dewasa gak terasa yah 18 tahun telah berlalu, ibu takut kalau ibu gak bisa dampingi kalian masuk ke fakultas impian kalian, dan ibu beli kalung ini agar ibu bisa meninggalkan sesuatu yang bisa kalian simpan,” lanjut ibu Dewi.
“Ibu gak boleh ngomong gitu, ibu akan selalu ada untuk kita bertiga, ibu gak boleh ninggalin kita,” jawab Naura melepaskan pelukannya.
“Betul, ibu jangan ngomong gitu lagi yah, kita bertiga gak suka. Kita juga gak bisa membayangkan bagaimana kita bisa hidup tanpa ibu,”
“Tapi nak, jodoh, rezeki dan maut itu di tangan Allah kita gak bisa mengubahnya, bisa saja salah satu di antara kita mati besok, nanti, bahkan sekarang,”
“Gak pokonya ibu gak akan ninggalin kita, titik!” kata Jafira meninggalkan ibunya dengan perasaan kesal, di susul Naura dan Arin.
“Nak maafin ibu, ibu sayang kalian, ibu takut kalau ibu sudah tiada kalian akan berpisah, semoga kalung itu tetap mempersatukan kalian,” ucap ibu Dewi menatap ketiga putrinya yang meninggalkannya. Ia tak kuasa menahan air matanya, hingga sesak di dada menyerangnya, namun ia tetap berusaha untuk menahan sakitnya.
Keesokan Harinya….
Hari ini adalah hari paling menegangkan bagi Jafira, Naura dan Arin, bagaimana tidak? hari ini merupakan hari pengumuman kelulusan mereka. Di dalam aula sekolah semua siswa kelas XII di kumpulkan untuk mengetahui nilai akhir mereka termasuk Januari.
Setelah 1 jam berlalu akhirnya hal yang di tunggu-tunggu telah tiba yaitu pembacaan nama siswa siswi yang lulus dengan nilai terbaik. Dengan perasaan tegang mereka bertiga berharap nama mereka akan di sebut oleh kepala sekolah.
Benar saja satu persatu nama mereka di sebut dan di panggil naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan, dengan gugup mereka menaiki podium untuk mengeluarkan sepatah kata atas pencapaian mereka.
Setelah acara selesai mereka pulang dengan perasaan gembira dan tidak sabar ingin memberitahu ibu mereka.
“Ibu pasti senang banget.karena kita bertiga lulus dengan nilai terbaik,” kata Naura.
“Iya jadi gak sabar ketemu ibu,” ucap Jafira.
Tatkala langkah ketiganya terhenti ketika melihat bendera putih di depan rumah mereka, piagam yang mereka ganggam terjatuh ke tanah. Dengan penuh pertanyaan mereka berlari memasuki rumah untuk menjawab pertanyaan yang ada di pikiran ketiganya.
Mereka berdiri mematung tatkala melihat sesosok tubuh terbungkus kain yang telah kaku. Seketika tubuh mereka lemas seperti tak memiliki tulang, jatuh luruh ke lantai. Senyum yang mereka perlihatkan sepanjang perjalanan kini telah pudar. Bulir-bulir air mata telah membentuk sungai kecil di wajah ketiganya ketika melihat jasad ibu Dewi terbujur kaku tak berdaya. Mereka memeluknya dengan sangat erat seperti tidak mau melepaskannya untuk pergi. Satu per satu potret kebersamaan mereka bersama ibu dewi berputar seperti sebuah rekaman video yang tersimpan dalam memori otak mereka.
Kini senyum hangat dan pelukan penuh kasih sayang telah tiada. Semua mata tertuju pada ketiga gadis malang tersebut, di usia yang masih sangat muda mereka telah menjadi yatim piatu.
Ibu Dewi telah tiada, inilah fakta yang menyakitkan yang harus di hadapi Januari. Dengan berat mereka harus menerima kenyataan dan berusaha menguatkan satu sama lain. Kini Ibu Dewi sudah tenang di surga dengan meninggalkan berjuta kenangan yang akan selalu tersimpan dalam ingatan putri-putrinya.
Ketika kesedihan menjatuhkan air mata, maka Allah meminta kita untuk berusaha tersenyum.
