Flashback

5 tahun lalu…

Setelah membuang bukti, mereka mengendarai sepeda motor meninggalkan tempat kejadian. D isisi lain, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan kejadian itu.

Setelah orang-orang itu pergi, seorang laki-laki paruh baya melompat ke laut dan berenang ke arah titik lokasi mobil Jerry dan Jefry terjebak. Laki-laki itu membuka pintu mobil dan mengangkat Jerry dan kakaknya ke tepi pantai.

“Kak, kakak… Bangun, Kak!” ucap Jerry menggoyangkan tubuh kakaknya

“Sabar, Nak. Kakakmu sudah meninggal. Ikhlaskan saja,” ucap laki-laki penolong itu

“Berisik, ini semua ulah mereka!” ucap Jerry memukul pasir pantai.

“Apakah kau ingin membalas mereka?” Tanya laki-laki itu.

“Iya, tidak akan kubiarkan mereka hidup dengan tenang!” ucap Jerry menatap wajah laki-laki itu dengan ekspresi marah.

“Bagus. Ikut denganku. Akan kupastikan kau bisa membalas dendam,” ucap laki-laki itu.

“Baiklah, asalkan bisa membalas mereka, aku siap!” ucap Jerry.

Laki-laki itu mengangkat tubuh Jefry yang sudah dingin. Kemudian, dia mengajak Jerry ke dalam mobilnya.

Setelah beberapa lama, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang besar dan luas.

“Turunlah, kita sudah sampai. Latihan akan kita mulai. Segera masuk ke dalam rumah,” ucap laki-laki itu sambil membuka pintu mobil. Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.

Jerry berjalan mengekori laki-laki itu. Sampai di depan sebuah ruangan, laki-laki itu berhenti kemudian berkata, “Apakah kau sudah siap?” tanyanya.

“Iya, aku sudah siap!” ucap Jerry dengan penuh percaya diri

Pintu ruangan terbuka. Terlihat jelas seluruh isi ruangannya.

“Pelajaran pertama, aku ingin kamu membekukan tubuh kakakmu dan memajangnya,” ucap laki-laki itu.

“Ta.. Tapi caranya bagaimana? bukankah kakakku harus dikubur?” ucap Jerry.

“Pelajaran hari ini, berpikir dan bertindak out of the box. Kamu bisa mengawetkan mayat kakakmu dengan cara membekukannya,” ucap laki-laki itu.

Jerry mengikuti perkataan laki-laki itu. Latihan demi latihan dilewati Jerry. Tubuhnya penuh luka hingga ia berumur 17 tahun. Laki-laki itu melatih Jerry semua ilmu bela diri dan semua teknik membunuh yang diperlukan jerry.

***

Bel istirat berbunyi, menandakan jam pelajaran sudah usai. Seluruh siswa ke luar kelas satu per satu menuju arah kantin. Jerry pun berjalan ke luar kelas. Namun, tujuannya kali ini bukan perpustakaan. Jerry berjalan ke arah kelas Fiki.

“Pe… Permisi, apa Fiki ada?” ucap Jerry.

“Fik, ada yang nyariin lo!” teriak Farid, teman Fiki

“Siapa Rid?”tanya Fiki.

“Siswa nomor satu nyariin lo!” ucap Farid.

Mendengar itu, Fiki berhenti bermain game. Dia berjalan ke arah Jerry.

“Eh, ada apa, Jer? Ngapain nyariin gua?” ucap Fiki sambil berbisik.

“Sebaiknya pulang nanti kita bareng. Gak ada penolakan,”  Bisik Jerry di dekat telinga Fiki sambil meniup daun telinga Fiki. Otomatis Fiki sedikit gemetar.

“Ya udah, Fik.Aku pergi dulu. Bu Widya pasti nyariin dah!” ucap Jerry. Dia berjalan ke arah perpustakaan, meninggalkan Fiki yang masih sedikit gemetaran.

“Fik, lo kenapa? Kuy lanjut lagi maennya!” ucap Alfin.

“Oh iya Fin, tunggu bentar,” ucap Fiki.

Pulang sekolah, Jerry sudah nunggu Fiki di depan gerbang. Jerry sudah mengubah penampilannya. Dia melepas kacamata, mengacak rambutnya, berdandan ala preman, dan tidak lupa memakai masker

“Buruan, jangan lama!” ucap Jerry pada Fiki

“I-iya Jer” ucap Fiki.

“Jangan sebut Jerry. Panggil Rey!” ucap Jerry.

Fiki bingung dengan kelakuan Jerry yang berubah drastis. Lain halnya dengan teman-temannya yang melihat mereka berdua.

“Eh, Fin! Tuh cowok siapa? Keren banget, sumpah!” ucap Fitri, teman kelas Alfin, teman Fiki.

“Mana gua tau, Fit! Gua aja baru liat tuh cowok. Padahal seragam kita sama, terus bareng Fiki lagi?” ucap Alfin.

Fiki dan Jerry berjalan ke arah rumah kos. berhubung kosan Fiki bersebelahan dengan kosan Jerry, Jerry bisa memantaunya. Alasan utama Jerry ngekos karena Fiki juga ngekos, demi ngejaga Fiki, Jerry juga ngekos di samping kamar Fiki.

Saat berjalan ke arah kos, Jerry dan Fiki melewati sebuah gang. Di tengah perjalan, dari depan muncul beberapa orang yang bertubuh besar. Jerry dan Fiki ingin berlari. Namun, mereka dikepung dari kedua sisi.

“Hey, mengapa kalian ngalangin jalan?” ucap Jerry.

“Napa lo? Marah ih… Takut… Hahah” ucap laki-laki yang tubuhnya paling besar.

“Jer, ini ada apa? Gua takut…” ucap Fiki.

“Yaelah, jadi cowok kok penakut sih?” ucap Jerry.

“Hahaha, aish mainnya keroyokan. Kalau berani majunya satu-satu” ucap Jerry sambil memasang kuda-kuda.

Kesal melihat Jerry, salah satu laki-laki maju untuk memberi Jerry pelajaran. Dengan lihai, Jerry menghindari serangan dan memberi sebuah pukulan tepat di perut penyerangnya.

Melihat itu, mereka semua terkejut. Mereka kemudian maju bersama-sama. Jerry menyuruh Fiki untuk mencari tempat aman selagi Jerry melawan musuhnya.

“Haha, cuman segini kemampuan kalian? Pukulan kalian gak kerasa. Badan aja gede!” ucap Jerry. Dengan lihai dia menghindari setiap serangan yang datang.

Karena bosan tidak ada kemajuan, Jerry mengambil sebuah pisau kecil dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah salah satu musuhnya. Pisau itu menancap sempurna di kepala. Seketika itu, salah satu penyerang tumbang.

Tidak berhenti di situ, Jerry mengeluarkan sebuah besi dari balik bajunya. Awalnya, besi itu pendek. Kemudian, besi itu ditarik memanjang dengan ujung yang runcing.

Melihat itu, para penyerang mengeluarkan pisau mereka dan kembali menyerang Jerry. Lagi-lagi, Jerry menghindari serangan mereka. Dia menyerang salah satu dari mereka tepat di pahanya.

Melihat kejadian itu, Fiki yang sedang sembunyi bergidik ngeri. Tanpa sadar, dari arah belakang ada salah satu penyerang yang mencoba menangkap Fiki. Namun, Jerry tidak pernah melepas pandangan dari Fiki. Penjahat itu menerima pisau terbang Jerry, tepat di kepalanya.

****

Penulis : Muh.Irwan Ali

Asal Sekolah : SMA Haji Agus Salim Katoi

Kelas : 10

Kab : Kolaka Utara

(Visited 36 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *