Setelah pertarungan yang lama, para penjahat yang tersisa mencoba melarikan diri. Namun, Jerry tidak akan membiarkan mereka lolos.
“Heh, mau kabur, nih? Jangan harap!” ucap Jerry.
Jerry menyerang mereka menggunakan pisau yang mengandung racun. Dia melemparkan sebuah pisau yang mengandung obat tidur pada penjahat yang berbadan besar. Penjahat itu seketika terjatuh, sebelum kesadarannya hilang, ia melihat anak buahnya meninggal satuper satu.
“Heh, salah pilih lawan. Badan aja gede, tapi kalah ama bocah 18 tahun. Malu-maluin,” ucap Jerry. Penjahat itu pun hilang kesadaran.
“Fik, udah aman. Keluar, kita pulang. Gua laper nih!” ucap Jerry ringan.
“I-iya…” ucap Fiki. Dia keluar dari tempat persembunyiannya. Badannya gemetaran melihat mayat-mayat bergelimpangan.
Jerry mengeluarkan telepon genggam, kemudian menelepon seseorang.
“Pak, di gang depan kosan. Bawa pergi ni kecoa. Ingat, bawa ke tempat biasa,” ucap Jerry sebelum memutus panggilan.
“Jer, mereka siapa?” tanya Fiki.
“Mereka semua suruhan musuh Ayah. Makanya, mulai sekarang kita berdua bakalan pulang bareng. Ayah juga nyuruh gua jaga lu,” ucap Jerry.
“Dan sebelum gua beresin mereka semua, lu jangan pernah pergi jauh dari gua. Entar yang repot gua. Ngerti lu?” sambung Jerry.
“I-iya, Jer. Gua ngerti,” ucap Fiki.
“Nah, gitu dong. Gimana nilai lu? Mau gua bantu, gak?” ucap Jerry.
“Emangnya lu mau bantuin gua?” ucap Fiki.
“Dari lu nya juga sih, mau dibantu apa enggak. Tapi, ada syaratnya,” ucap Jerry.
“Gua mau. Terus syaratnya apa?” ucap Jerry.
“Masakin gua makanan enak tiap hari. Masakan lu selalu enak,” ucap Jerry sambil berjalan ke arah kosnya
“Deal, ya?” ucap Fiki menyusul Jerry.
***
Laki-laki itu terbangun dan terkejut mendapati dirinya diikat di sebuah ruangan yang gelap. Hanya lampu di atasnya yang menyala
Saat masih terkejut, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Jerry berdandan ala cupunya dan mendekati laki-laki itu.
“Hey, kok cupu ada di sini sih? Gak ada anak buah, ya? Hahaha…” ucap laki-laki sambil tertawa.
Lampu di dalam ruangan satu persatu menyala. laki-laki itu membulatkan matanya ketika melihat sebuah meja yang penuh dengan benda-benda tajam: mulai dari jarum, pisau, sampai gergaji mesin.
“Hey, cupu! Ambil pisau kecil itu dan buka ikatanku. Kalau gak, gua jadiin lu perkedel. Mau, lu?” ancam laki-laki itu.
“E-enggak mau, Bang. Tunggu akan saya bebaskan Abang,” ucap Jerry kemudian mengambil sebuah pisau.
Jerry perlahan berjalan ke arah laki-laki itu sambil memegang pisau di tangannya.
“Hahaha, makanya lain kali nyari jangan yang cu… Akkhh” ucap laki-laki itu ketika Jerry menancapkan pisau ke telapak tangannya.
“Hahaha… sakit, hemm?” ucap Jerry kemudian melepas kacamatanya dan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan.
“K-kau?” ucap laki-laki itu.
“Iya, gua. Napa lu, takut? Ais lemmah… Badan doang gede!” ucap Jerry.
Jerry berbalik mengambil sebuah pisau di atas meja. Kali ini, lebih besar dari yang pertama. Jerry memotong jari-jari laki-laki itu dengan perlahan, membuat dia merasakan sakit yang luar biasa.
“Akkhh…! Kalau mau motong, langsung potong aja. Gak usah sopan motongnya,” ucap laki-laki itu.
“Malah ngatur, nih…” ucap Jerry sambil memotong pergelangan tangan laki-laki itu.
Lagi-lagi laki-laki itu berteriak kesakitan. Kini, ruangan itu penuh dengan suara erangan kesakitan. Jerry mengulitinya, kemudian menjahit kembali pergelangan tangan laki-laki itu.
Laki-laki itu mati kehabisan darah. Tak berhenti hanya karena mangsanya sudah mati, Jerry mengambil sebuah pisau yang sering digunakan sebagai pemotong daging.
Jerry memotong-motong tubuh laki-laki itu. Tak lupa mengulitinya, memisahkan tangan dari badan, memisahkan kaki dari badan. Jerry memotong tubuh laki-laki itu menjadi beberapa bagian, kemudian mengambil sebuah kotak dan memasukkan potongan-potongan tubuh itu ke dalam kotak.
Setelah memasukkan tubuh mangsanya ke dalam kotak, Jerry meraih telepon genggamnya dan dan menghubungi seseorang.
Keesokan harinya, di depan markas musuh terdapat sebuah kotak besar. Melihat kotak besar itu, mereka semua berkumpul dan membukanya.
Alangkah terkejutnya mereka, ketika membuka kotak itu terdapat potongan-potongan tubuh anggotanya. Di atas potongan mayat itu ada sebuah surat yang berlumuran darah.
Salah seorang dari mereka mengambil surat itu, membuka, dan membacanya. Ketika membaca surat itu, ekspresinya berubah menjadi sangat kesal, lalu membuang surat itu.
“Apa kalian suka hadiah dariku? Suka lah, masa enggak? Dan sebaiknya kalian enggak ngirim orang lagi, yah? Kalu ngirim pun jangan yang lemah. Mereka semua lemah. Aku aja sendiri ngabisin mereka yang jumlahnya sepuluh orang dengan mudah. Tertanda: Devil”
Penulis : Muh.Irwan Ali
Kelas : 10
Asal sekolah : SMA Haji Agus Salim Katoi
Kab : Kolaka Utara
