Amira Shaqeela, anak orang kaya yang merasa hidupnya seperti di penjara ketika di rumah. Kenapa? bukankah ada pribahasa yang mengatakan rumahku adalah istanaku? Kebahagiaan dan kenyamanan yang seharusnya didapatkan ketika di rumah tidak dirasakan oleh Amira.
Amira tinggal di rumah yang mewah, tetapi ia merasa tak ada kehidupan di dalam rumahnya. Amira selalu kesepian karena sekarang ia hanya tinggal bersama kakaknya Zahra, dan yang paling membuat Amira hancur adalah ketika ia harus menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar hebat hingga menewaskan ibunya secara tragis.
Amira harus melihat tubuh ibunya terjatuh ke lantai dengan berlumur darah. Semua kejadian itu terjadi di dalam rumah tersebut. Semenjak kejadian itu Amira begitu membenci ayahnya, padahal dia tak tahu apa alasan ayahnya membunuh ibunya. Sejak saat itu hidup Amira mulai tak berarti, kakaknya sibuk mengurus perusahaan karena ayahnya di penjara hingga tak punya waktu untuk bicara dengan Amira.
Amira, gadis yang dulunya sangat periang kini berubah 180 derajat menjadi gadis yang dingin dan cuek. Amira mulai tertutup terhadap orang di sekitarnya, ia selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Amira hanya keluar ketika pergi ke sekolah, jika ia butuh sesuatu Amira minta tolong sama Mbo atau Pak Satpam.
Setiap pulang sekolah, Amira hanya duduk di dekat jendela kamarnya sambil menunggu guru les privatnya datang.
“Non, gurunya udah datang” terdengar suara Mbo yang mengetuk pintu kamar Amira.
“Iya mbo,” jawab Amira.
Inilah rutinitas Amira setelah pulang sekolah ia harus les privat Bahasa Inggris. Setelah les selesai ia kembali ke kamarnya dan merasa kesepian.
“Tuhan, apa kesalahan Amira? Kenapa Amira harus di hukum seperti ini? Kenapa engkau mengambil malaikatku? Amira benci papa,” air mata meluncur dari pipi manis Amira.
“Kenapa? Kenapa aku harus terlahir jika pada akhirnya aku harus menderita seperti ini?”
Amira terus menangis dengan memeluk boneka Taddy Bear pemberian ibunya.
Amira beranjak dari kasur mendekati jendela dan memandang langit biru, ia melihat banyak burung yang terbang bebas ke sana ke mari menghiasi langit sore.
“Tuhan, aku ingin menjadi seperti burung yang bebas terbang ke mana pun dia mau, tanpa beban dan masalah yang harus dipikul di pundaknya”. Pinta Amira kepada semesta yang hanya memberinya luka. Amira iri melihat burung-burung yang lebih bahagia daripada dirinya.
Nama : Ulva Mega Puspita
Kelas : XII
Asal Sekolah: SMAs Haji Agus Salim Katoi
Kabupaten : Kolaka Utara
