Oleh : Farah Aprilia Nursyah

Tak bosan kupandang diriku terus menerus di cermin berbentuk bundar itu. Cantik. Kulebarkan senyumku lalu menggendong tas coklat sedikit berat itu ke pundakku. Entahlah, semua orang memandangiku saat melangkah menuju kelas. Aku duduk dan kupasang earphone di telingaku mendengar musik yang cocok dengan rintikan hujan kala itu.

“Kau tampak bahagia hari ini”, kata Agra persis di dekat telingaku, yang membuatku mencabut kedua earphoneku.

“Ya, kau tahu, dia bilang dia ingin memberiku sesuatu, entah apa itu aku tak peduli, aku sangat bahagia” ucapku dengan mata bersinar sinar. “

Ya,dia memberitahuku itu hadiah yang sangat indah, tapi mungkin kau tidak menyukainya” kata Agra dengan suara yang jelas cemburu.

“Tidak” kataku singkat, lalu kembali memasang earphoneku.

Dia datang dengan gaya jalannya yang membuatku salah tingkah. Oh sungguh dia sangat tampan.

Aku berpura pura tidak memedulikan kehadirannya, dan berharap dia menghampiriku lalu memberikan hadiah istimewa seperti yang dikatakannya. Benar saja, dia menghampiriku.

“Oh, halo Bagas, kau ingin memberikan sesuatu?” kataku dengan penuh harap.

“Kuminta berhenti menyukaiku, Tiara. Kau benar -benar mengganggu, dan aku tidak menyukaimu,” ucapnya serius, yang tentu membuat hatiku benar- benar tergores.

“Apakah ini yang kau maksud hadiah istimewa?

” Sudah kukatakan Tiara, kau tidak akan menyukainya,” timpa Agra dengan tingkah mengejekku.

” Oh ya ya ya dia tidak cemburu, dia sama risihnya dengan sekumpulan orang- orang yang memandangiku. Ya aku sadar sekarang. Terlalu menyukainya membuatku gila. Aku hanya menangis dan membuang wajahku. Malu.

“Hadiah yang sangat istimewa,” ucapku tersenyum aneh.

Watansoppeng, 25 Oktober 2021

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *