Oleh : Anugra Dwi Junianti
Hai ,aku Aruna Rossieana, panggil saja Aruna. Aku ingin menceritakan sedikit kisah cintaku yang LDR-an sekitar 5 tahun. Kami hanya bisa saling bertukar pesan, video call, dan mengirim barang online, sekalipun kami tidak pernah bertemu.
Malam yang indah, begitu terang seakan langit sangat mendukung perasaanku saat ini. Perasaan yang begitu senang, karena telah menerima sebuah hadiah kekasihku. Aku diberi sebuah sepatu impian dan juga boneka bkba yang besar. Dia peka sekali bukan? Aku pun memutuskan untuk menelpon dia, Rayyan Adityawarman.
Telpon pun tersambung. Senyumku merekah, mendengar suaranya yang begitu candu sehingga bisa membuatku tertidur dengan lelap, Rayya!” pekikku merasa senang sekali. Di seberang sana aku mendengar Rayya terkekeh karena sikapku, “gimana sama hadiahnya? Suka engga?” ucap Rayyan padaku dan kubalas dengan anggukan juga “iya! Makasih ya! aku tuh seneng banget, kamu kok peka banget sih? Pokoknya makasih ya Rayyan!” aku memencet tombol loud speaker ingin mendengar suara Rayyan lebih jelas.
“Hahah iya sama -sama, oh ya kamu engga kangen sama aku?” balasnya dan sekali lagi Rayyan terkekeh.
Aku yang mendengar itu bukannya senang, melainkan aku rasanya ingin menangis. Kenyataan menyadarkan aku bahwa aku dan Rayyan selama ini sudah berusaha untuk bertemu tetapi takdir berkata lain. Aku tidak pernah bisa ke tempat Rayyan berada karena aku mempunyai orang tua yang ketat,dan Rayyan juga tidak diizinkan untuk berpergian jauh.
“Aruna?” suara lembut menyapa indra pendengaranku. Suaranya yang candu, ketika dia memanggilku dengan nada lembut . Hatiku rasanya hancur. Aku benar – benar rindu kepada Rayyan. Rindu pada kekasihku yang sejak lama tidak pernah bertemu.
“Aruna jangan menangis. Aku engga suka kamu nangis, tolong jangan menangis ya Aruna” ucapnya memohon kepadaku. Tidak bisa, ini benar- benar menyakitkan bagiku. Rasa sesak terus ada ketika aku merindukan sosok Rayyan.
Ting.. Ting..
Suara bel rumahku berbunyi sebanyak dua kali. Tandanya ada seseorang di luar sana. Aku kemudian memencet tombol mute di handphoneku, kemudian keluar dari kamar menuju arah pintu utama.
“Siapa?” Tidak ada yang menyahut. Akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu.
Malam ini, akanku jadikan malam yang paling bahagia. Tepat pada tanggal 1 November 2021, Rayyan Adityawarman lelaki yang selama ini aku rindukan, telah berdiri di hadapanku dengan kedua tangan dia ulurkan. Tanpa aba- aba aku langsung saja memeluk tubuh kekasihku. Kakiku lemas, menangis di dalam pelukan Rayyan. Aku memeluknya erat, sangat erat takut jika dia pergi.
Rayyan hanya tersenyum, mengelus rambutku dengan pelan, mencoba menenangkan aku yang sedang menangis sesenggukan. Entah berapa lama kami berpelukan, tidak peduli. Intinya kami saling merindukan satu sama lain.
Saat itu Rayyan tidak pergi. Dia menjagaku, merawatku ketika sakit, selalu ada ketika aku sedang down. Rayyan benar- benar tipe lelaki yang berbeda dari yang lain. Aku bersyukur, telah dipertemukan dengan sosok lelaki bernama Rayyan.
Dari Rayyan aku percaya bahwa benar adanya lelaki yang tulus dan setia. Rayyan lelaki yang mencintaiku sepenuhnya, menerimaku apa adanya, tidak pernah membedakan aku dengan perempuan yang berada di luar sana.
Untuk Rayyan, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Kamu telah menjadi sosok lelaki yang kucintai dan juga menjadi sosok ayah untukku.
Watansoppeng, 26 Oktober 2021
