Oleh : Nayla Basam
Buku itu rapuh, melebur menjadi debu.
Satu bagian yang utuh, bagian dari kisahku dan kamu. Tak sesejuk Sarayu namun masih menyimpan beribu kenangan yang telah rimpuh.
Bait-bait sajak yang telah usang tak lagi seindah ketika pertama kali dipandang. Seandainya tak pernah ada kita, maka tak pernah ada kata luka yang tertera di lembarannya.
Tak pernah bosan aku membacanya. Walau sudah tahu bahwa kisahnya akan berakhir seperti apa. Tak pernah ada kata semu, juga perasaanku yang tak akan pernah jemu. Meski hadirku dan hadirmu hanya menjadi cerita dua insan yang hampir bersama, namun temu tak diinginkan semesta.
Sebait Majas Metafora menyampaikan deru rindu diantara nafas kalbu. Aku yang telah bersembilu pilu ternyata masih berani mengejar rindu.
Denganmu aku belajar, bahwa buku bisa selesai tanpa menuliskan halaman terakhirnya yang belum usai. Tak lagi kulanjutkan lembaran yang tersisa. Biar Sang Maha Skenario Semesta yang menuliskan akhir dari kisah kita.
Dan untukmu, Tuan.
Kuharap ketika kamu membaca ini, kamu telah menemukan bahagiamu yang sebenarnya. Seseorang yang mampu membuatmu kembali percaya akan rasa.
Dari diriku, Nona Hujan yang tak pernah dianggap kehadirannya.
Watansoppeng, 23 Oktober 2021
