Oleh : Nayla Basam

Kepada dirimu, sang lelaki pemilik senyum yang indah. Lelaki yang berkepribadian layaknya Uranus, sangat dingin tapi dapat menghangatkan disetiap waktu.

Di bawah nabastala mataku beradu dengan kalbu. Memaksa jiwa agar hirap dari hiruk-pikuk kesedihan yang tak terhingga. Sarayu yang menerpaku tanpa henti seolah tahu yang kurasakan saat ini.

Tuan, senyummu yang indah layaknya swastamita. Senyum yang tidak dapat aku gambarkan keelokannya. Ingin rasanya kurengkuh namun bayang-bayangmu saja seakan berusaha pergi menjauh dariku.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha lari dari jebakan semesta. Perihal asmaraloka dan drama yang telah selesai. Berpikir bahwa setelahnya aku akan terlelap dan tak ada satu ruang pun untuk memikirkan keputusanku tentang dirimu.

Izinkan aku menunggu kehadiranmu kembali disini, ya? terdengar mustahil namun biarlah kita berjalan layaknya shyam dan baswara. Kembalilah nanti wahai tuan, aku masih disini, menunggu sang Uranusku datang merengkuhku kembali.

Watansoppeng, Oktober 2021

(Visited 58 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *