Patah hati terbesar Naura adalah saat kedua orang tuanya meninggal akibat insiden kecelakaan maut yang berhasil merenggut nyawa keduanya.
Naura pada saat itu masih berumur 2 tahun gadis kecil yang belum mengerti apa-apa di paksa dewasa oleh keadaan,gadis kecil yang dipaksa mengerti dengan keadaan. Semesta kadang memang membuatnya seolah-olah mengerti keadaan meski dirinya menolak keras.
Tepat hari kedua kepergian Ayah dan Ibu,Naura berada dalam dekapan hangat Nenek. Naura yang pada saat itu belum mengerti apa-apa hanya melebarkan pandangannya mencari keberadaan kedua orangtuanya di antara banyaknya orang yang berkunjung.
Ini adalah hari pertama Naura bangun tanpa sapaan dari Ibu dan Ayah, dan ini adalah kali pertama Naura mendapatkan suapan sarapan pertama bukan dari Ibu atau Ayah. Sesibuk apa pun kedua orang tua Naura mereka selalu menjadi pertama bagi Naura di pagi hari.
Ingin rasanya Naura berteriak sekeras-keras bertanya di mana keberadaan Ibu dan Ayahnya? Kenapa sejak tadi mereka tidak menyapanya? Jika mereka kerja, setidaknya Naura bisa video call sama mereka,tapi ini sama sekali tidak,Naura kecil harus terpaksa pura-pura mengerti dengan keadaan.
15 tahun kepergian Ayah dan Ibu,Naura tumbuh menjadi gadis yang pintar,selalu memperoleh prestasi,dan itu semua berkat dorongan sang Nenek yang selalu membuat Naura untuk terus maju.
Hari ini adalah hari pertama Naura belajar aktif di sekolah barunya setelah melewati masa MOS selama seminggu.
Sepenjang koridor menatap Naura dengan tatapan yang sulit diartikan, mereka seolah-olah menatap Naura seperti sampah dan Naura yakini itu semua karena penampilan Naura yang sangat biasa-biasa saja tidak berlebihan seperti mereka.
“Aelah kenapa sekelas sama si cupu sih!” Seru salah satu siswa bernama Cila saat melihat Naura memasuki kelas. Naura yang diperlakukan seperti itu hanya tunduk saja, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti.
“Cupu tuh duduk di belakang,” seru Cila kembali saat melihat Naura yang hendak menyimpan tasnya di bangku ketiga.
Naura menatapnya lalu menaikkan sebelah alisnya. Kenapa dengan gayanya yang biasa saja tidak boleh duduk di bangku depan?
“Kenapa emangnya kalau saya duduk sini?”
“Dih, pakai nanya lagi.Loh ga pantes duduk situ.”
“Apanya yang tidak pantas? Saya dan kamu kan sama-sama siswa,kamu membayar di sekolah ini saya juga membayar kok.”
“Halah banyak omong lu. Udah sana duduk di belakang,” Cila dengan cepat menyambar tas ransel Naura, lalu menyimpannya di bangku belakang.
Bangku belakang yang sangat tidak nyaman untuk di tempati. Kursi yang tidak punya penyangga,meja yang goyang-goyang selalu menciptakan suara saat melakukan gerakan tambahan. Naura hanya pasrah mendapatkan semua ini,baginya dikucilkan sudah menjadi hal yang biasa.
“Oh si cupu terdampar di kelas IPA 2 yah? Untung ajah ga di kelas gue,” kata siswa yang sempat mengintip ke dalam kelas Naura.
Meskipun mereka berbicara di luar tetapi pendengaran Naura masih sangat jernih dan mampu mendengar suara mereka yang berbicara tentangnya.
“Untung ajah ga di kelas IPA 3, bisa ga hits kelas kita kalau dihuni sama si cupu.”
Naura kadang dibuat bingung sama teman-temannya sesama siswa. Mengapa penampilannya yang biasa saja membuat mereka membencinya,apakah Naura harus bermake-up dahulu seperti mereka? Biar mereka tidak memandangnya seperti beban di sekitarnya?Apakah Naura harus memakai barang-barang bermerek biar mereka juga menghargainya? Namun sayangnya Naura bukan tipikal orang yang berlebihan,Naura tidak suka mengikuti perkembangan tren. Naura sangat suka dengan biasa-biasa saja dan tidak mengikuti trend,karena baginya tren hanya sementara dan biasa-biasa saja.
“Gimana sekolahnya hari ini? Lancarkan?” Tanya Nenek saat melihat Naura yang mulai melepas tali sepatunya.
“Lancar dong Nek,” jawab Naura singkat.
“Ga ada yang jahat-jahat kan kayak dulu?”
Pertanyaan Nenek kali ini berhasil membungkam Naura, harus jawab apa dia sekarang ini. Jika menjawab jujur pasti dirinya akan dicarikan sekolah baru lagi. Teringat beberapa tahun silam Naura selalu dipindahkan ke sekolah lain karena pergaulan teman sekolahnya yang selalu menindas Naura membuat Nenek tidak suka dan alhasil Naura di pindahkan ke sekolah yang lebih aman.
“Ga ada kok Nek semuanya pada-pada baik-baik semua” jawab Naura berusaha tenang.
“Yakin? Coba Nenek periksa” perlahan Nenek mendekat.
Kali ini Naura lega karena teman-temannya tidak main fisik padanya jadi tidak ada jejak yang membuat Nenek curiga padanya.
“Aman ga ada lebam. Ya udah sana Naura ganti baju habis itu makan siang yah.”
“Sip Nek, Laksanakan!” kata Naura membuat gaya hormat, lalu berlalu dari hadapan Nenek.
Suasana kamar Naura sangat sepi dan damai,tempat ternyaman bagi Naura adalah kamar. Selain damai, dia juga dapat memandangi wajah kedua orang tuanya,meski hanya melalu foto namun itu sudah mampu mengobati sedikit rasa rindu Naura.
Perlahan tangan Naura menggapai bingkai foto . Di situ ada Ayah,Ibu beserta dirinya. Foto itu diambil saat dirinya sedang berulang tahun yang kedua kalinya, ulang tahun terakhir yang Naura rasakan bersama kedua orangtuanya kenangan yang Naura tidak bisa putar di memorinya.
“Halo Ibu, Ayah” kata Naura sembari mengelus bingkai foto itu.
“Naura udah gede loh. Udah duduk di bangku SMA udah 15 tahun,udah gedekan? Hehe iya dong udah gede. Tau ga Bu,Yah?” Naura menjeda ucapannya tak kuasa menahan air matanya.
“Ga kerasa yah Naura udah 13 tahun hidup tanpa Ibu dan Ayah,udah 13 tahun Naura hidup di atas angan-angan yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu dan Ayah.”
“Kalau ada perpisahan pasti ada kenangan kan? Buat jadi obat rindu. Naura juga pasti punya kenangan sama Ibu dan Ayah,tapi Naura ga bisa putar kenangan itu,otak Naura menolak keras untuk mengingatnya,mungkin karena pada saat itu Naura masih sangat kecil jadi otak Naura sangat susah untuk mengingatnya,” lagi-lagi Naura kembali mengusap air matanya yang selalu jatuh tanpa komando.
Semesta bisakah kau menghidupkan kedua orang tua Naura? Sejam saja,agar Naura bisa merekam kenangan mereka bersama dan memutarnya saat Naura sedang merasakan rindu pada mereka.
Naura memeluk bingkai itu,berharap foto ini bisa mengobati rasa rindunya.
“DASAR CUPU!”
“Diam jadi Cupu, bergerak buat anak orang pingsan!”
“Cari sekolah baru ajah deh loh si cupu!”
“Ngotorin angkatan kita ajah nih si cupu!”
“Woi cupu,ngapain lagi loh masuk sekolah?”
Lontaran demi lontaran yang Naura dapatkan membuatnya hanya mampu memejamkan matanya ketika kertas demi kertas mengenai wajahnya.
“Masuk sekolah juga loh? Gue kira udah meninggal loh,” kata Cila tertawa meremehkan saat melihat Naura yang di bully habis-habisan.
Semenjak insiden Naura tak sengaja menabrak Cila membuat gadis itu pingsang,saat itu juga Naura di bully habis-habisan di sekolah.
“Cil,saya—“
“Saya apa? Ngomong yang jelas dong.” “Kejadian dua hari yang lalu saya ga sengaja,saya benar-benar ga sengaja demi apapun,” kata Naura berusaha menjelaskan. Dia sudah capek mengahadapi teman-temannya yang begitu keras.
