Oleh: Andi Annisa Nayla Rafeyfa
Ku buat jeda di antara sunyi yang
memeluk erat seluruh tubuh ini.
Mencintaimu seperti merelakan raga
menuju sunyi dalam keabadian—
di ikuti rindu yang selalu memanggil namamu.
Rindu yang terus mengalir tanpa henti
meninggalkan sayatan kecil tetapi perih.
Ingin rasaku selalu berada dalam setiap
hembusan napasmu—namun terlalu banyak
ketidakmungkinan di antara kita berdua.
Ada debuman riuh menghantam, di iringi
rindu dan tekanan batin yang menyakitkan.
Seandainya takdir berpihak pada kita,
“apakah aku bisa terus bersamamu?”,
pertanyaan itu seolah melekat pada batin.
Denyut nadiku melemah.
Seolah berteriak sudah tak
kuasa, bekerja di antara beban—yang selalu bertambah.
Namun hati selalu berharap, kehadiranmu—
ada saat hembusan napas terakhirku.
“Sangat mustahil”, ya—memang sangat
mustahil hal itu menjadi kenyataan.
Cinta ini tak pernah layu—masih segar
dan akan selalu segar.
Kini—
titik nadir hadir lebih tegas, ku coba
bertahan dengan napas terengah-engah.
“Mungkin inilah akhirnya”, bisikku sunyi—
sangat miris melihat diri ini rindu setengah
mati pada insan yang tak lagi miliknya.
Sudah terlalu lemah—’tuk mengatakan
semuanya, biarlah semesta yang menjadi saksinya.
Namamu terus berada di tengah nadi dan rindu
yang selalu mendarah pada raga ini.
Watansoppeng, 27 November 2025
