Oleh: Lara Ayu Kinanti*
Akan kutitipkan namaku
di sela-sela napasku yang lupa pulang,
bukan untuk dikenang.
Agar semuanya tak menghilang,
lampu lalu lintas itu mengajariku
cara berhenti tanpa benar-benar diam.
Aku belajar mencintai
seperti membaca pesan yang tak pernah dikirim:
pelan dan ragu.
Aku siap disalahartikan.
Ada doa yang tak naik ke langit.
Aku memilih tinggal di dada,
menjadi sesak
yang kita semua sebut dewasa.
Jika suatu hari nanti aku lenyap,
jangan cari aku di ingatanmu.
Carilah aku di kebiasaan-kebiasaan kecilku
yang tiba-tiba terasa sepi.
Sebab manusia tak pernah benar-benar pergi;
ia hanya berpindah
ke hal-hal yang tak sempat kuucapkan.
Watansoppeng, 8 Januari 2025
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5
