Sepulang sekolah, Reynal menunggu Fiki di depan gerbang sekolah. Fiki berjalan ke arah luar sekolah bersama sahabatnya Alfin dan Farid.

“Fin, Rid, gua duluan, ya? Udah ditungguin soalnya,” ucap Fiki kepada sahabatnya.

“Iya, Fik. Kita berdua balik, ya? Dah!” jawab Alfin.

Mereka pun berpisah di gerbang sekolah.

“Fik, buruan pulang!” ucap Reynal.

“Iya, Rey. Lu kapan punya motor?” Fiki penasaran.

“Motor bawahan gua, buruan naik!” ucap Reynal.

Fiki kemudian naik ke motor Reynal. Di sepanjang perjalanan, tidak ada perbincangan. Tiba-tiba, di pertengahan jalan Reynal berhenti mendadak.

“Rey, kok berhenti?” tanya Fiki sesaat setelah hampir jatuh.

“Musuh ada di depan,” bisik Reynal.

Fiki menoleh ke depan. Nampak beberapa laki-laki berkepala botak dengan badan yang besar menghadang di depan mereka.

“Maaf, Bang, bisa minggir dulu, gak? Soalnya saya lagi buru-buru,” sapa Reynal.

“Kalau kami gak mau, gimana?” ucap salah satu dari mereka

“Ya, terpaksa, Bang…” ucap Reynal sambil mengeluarkan pistol dari balik bajunya.

Reynal menodongkan pistol itu ke arah mereka. Karena tempat ini gang sepi, tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi

“Heh, lu pikir gua takut ama tu pistol? Palingan juga pistol main..”

Ucap laki-laki itu terhenti ketika sebuah peluru menembus tepat di jantungnya.

“Wah, berani nih bocah!” mereka semua turun dari motor dan berjalan ke arah Reynal dan Fiki.

“Fik, lu turun dulu. Sembunyi yang jauh, tapi jangan terlalu jauh!” perintah Reynal.

“Okey, Rey…” Fiki sembunyi tidak jauh dari tempat kejadian sambil melihat apa yang akan dilakukan Reynal.

Karena tidak ada niatan untuk bertarung, Reynal mengambil sebuah botol di sakunya lalu melemparkan ke arah mereka. Botol itu pecah dan mengeluarkan gas berwarna hijau. Karena cuaca berangin, gas itu dengan mudah menyebar. Satu per satu dari mereka tumbang menghirup gas beracun itu.

“Maaf, ya… Kalian jadi kelinci percobaanku. Lagi gak minat bertarung,” seloroh Reynal.

“Fik, kita pulang!” Tidak ada jawaban.

“Fik, lu denger, gak? Lu sembunyi di mana, sih?” teriak Reynal sambil mencari ke segala arah. Namun, Fiki tidak terlihat.

“Nyariin bocah ini, ya?” terdengar suara dari arah belakang. Reynal pun berbalik.

“Woy, lepasin dia, kalau berani maju sini!” ucap Reynal

Laki-laki itu menangkap Fiki dan menodongkan pistol ke kepalanya. Fiki gemetar ketakutan. Dia berpikir mungkin akan mati di sini.

“Devil, nama julukan lu, kan?” sentak laki-laki itu.

“Iya, emang kenapa? Lepasin dia, gak?” ucap Reynal maju selangkah.

“Eits, jangan maju. Kalau enggak ni bocah bakalan mati ketembak loh…” ancam laki-laki itu.

“Cih, badan aja gede, ngadepin bocah masa pake sandera. Gak laki banget!” sanggah Reynal mencoba memanas-manasi lawannya.

“Heh, perkataanmu gak berpengaruh untukku!” jawab laki-laki itu sambil menodongkan pistol ke arah Reynal

Duaarr!

Laki-laki itu menembak paha Reynal.

“Heh, udah nembak, Bang? Kok gak ada rasanya?” ucap Reynal dengan wajah yang meremehkan.

Laki-laki itu sedikit kesal. Dia pun menembak paha Reynal yang satunya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Reynal berjalan mendekat. Laki-laki itu mengarahkan pistol ke dada Reynal.

Melihat itu, Fiki kemudian bertindak. Dia menggigit tangan laki-laki itu dan menginjak kakinya hingga terlepas.

Melihat ada kesempatan, Reynal melayangkan pisau tepat ke kepala lawannya. Laki-laki itu pun meregang nyawa seketika.

“Cih, pinter juga lu…” sindir Reynal.

“Jangan ngomong dulu. Kaki lu berdarah tuh!” Fiki khawatir.

“Bodoh! Coba pukul kaki gua,” Fiki pun memukul kaki Reynal.

“Aww, keras banget! Besi ya? Terus ini darah apaan?” Fiki bingung.

“Cium aja sendiri,” Reynal nyengir.

“Pewarna makanan, Cuk. Psikopat mah beda!” ucap Fiki

“Apa lu bilang?” hardik Reynal sambil memandang Fiki tajam.

“E-enggak… Gua gak ngomong apa-apa,” ucap Fiki menelan ludah kasar.

“huff, lu itu ya, lucu banget kalau lagi takut. Lu takut gak ama gua? tanya Reynal.

“Dikit sih. Tapi, lu selalu nyelamatin gua. Jadi, gak terlalu…” jawab Fiki.

“Ngapain takut, coba?” ucap Reynal.

Dari arah belakang, Reynal tidak menyadari bahwa masih ada musuh yang datang. Laki-laki itu hendak menusuk Reynal menggunakan pisau dari arah belakang. Dengan refleksnya Reynal menghindar kemudian mengunci leher laki-laki itu dengan tangannya. Sial, laki-laki itu kehabisan napas dan mati perlahan.

“Huh, gua kira lu bakal ketusuk!” Fiki lega.

“Haha, lu pikir gua gampang dikalahin?” ucap Reynal.

“Gak juga sih, gua cuma kaget aja,” bantah Fiki.

“Ya udah buruan, kita balik ke rumah. Ayah udah nungguin,” tegas Reynal.

“Lah terus, semua mayat ini bagaimana?” tanya Fiki.

“Oh iya, gua lupa hubungin Pak Serin.”

Reynal mengeluarkan handpone-nya lalu menghubungi Pak Serin

“Halo, Pak. Gang Mawar Nomor 3. Jangan lupa bawa truk, kecoanya banyak nih… ” ucap Reynal singkat lalu memutus sambungan teleponnya.

“Mayat-mayat pecundang ini bakal diurus ama Pak Serin. Kita pulang, yuk?” ajak Reynal.

Mereka berdua kembali melanjutkan perjalan pulang ke rumah ayah mereka.

Sesampainya di sana, Reynal menyuruh Fiki bertemu Ayah seorang diri.

“Tapi Jer, gua takut ketemu bokap…” nyali Fiki ciut.

“Laki kok takut? Udah masuk sana. Bokap juga gak bakalan makan lu kok, tenang aja. Gua ada urusan bentar. Gua tinggal dulu, yah?” ucap Reynal lalu pergi ke arah yang berbeda.

Fiki berjalan ke arah ruangan bokapnya dengan perasaan gundah dan gelisah. Sesampainya di depan ruangan, Fiki membuka pintu ruangan.

Dorr!

[Bersambung]

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *