Oleh: Suci Angraini

•Skip Mansion•

“Masuk gih, gosok gigi, cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, minum air putih, trus tidur.” perintah Aldino kepada adik kembarnya.

“Hmmm.” dehem keduanya lantaran sudah sangat mengantuk.

“Ayo jalan, Abang anterin kalian ke kamar kalian dulu, baru Abang balik ke kamar Abang.”

Twins pun berjalan dengan tertatih-tatih menaiki tangga hingga itu membuat Aldino khawatir adik kembarnya akan terjungkal kebelakang, Aldino begitu mewaspadai setiap gerakan si Twins agar dirinya tidak kecolongan jika tiba-tiba Twins benar-benar terjungkal kebelakang, karena ada dirinya di belakang si Twins.

Twins sudah tertidur di kamarnya, begitupun dengan Aldino.

Kemana Gionandra, Angga, dan Clara? Mereka sudah tertidur di kamar masing-masing.

•Skip Keesokan harinya•

•Meja makan•

Sekarang semuanya sudah bangun dan berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.

“Bang Al!” panggil Venia di sela-sela mengunyah.

“What?” tanya Aldino sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Kenapa guru matematika itu walaupun hujan badai, agin ribut, petir menyambar, banjir, corona vinus, tapi tetep aja selalu bisa datang ngajar, kenapa yah?” tanya Venia.

“Corona virus Ven, bukan Corona vinus.” ucap Aldino sambil menepuk dahinya.

“Iyah itu maksud Veni, yaudah jawab ih!”

“Kenapa guru matematika itu walaupun hujan, badai, agin ribut, petir menyambar, banjir, corona virus,, tapi tetep aja selalu datang?” ucap Aldino mengulang pertanyaan Venia.

Venia mengangguk menunggu jawaban.

“Yah karena kejadian itu bukan di daerah nya.” jawab Aldino tak mau susah.

“Iyah juga yah. Jawaban abang masuk kikil banget deh, veri nice.” puji si Twins.

“Masuk akal adik-adik ku, bukan masuk kikil.” ucap Aldino yang hampir frustasi di buat adik kembarnya.

“Nah Iyah itu maksudnya.”

Sedangkan Gionandra, Angga, dan Clara, hanya menyimak dan sesekali tersenyum kecil menyaksikan sesi tanya jawab antara kakak dan kedua adik kembarnya itu.

“Bang!” kali ini yang memanggil Aldino bukanlah Venia, melainkan Vania.

“Apa?” tanya Aldino.

“Kenapa sejarah itu harus membahas masa lalu?” tanya Vania.

“Yah karena kalau yang membahas masa depan, itu orang pacaran.” jawab Aldino.

“Kenapa orang pacaran?” tanya Vania lagi.

“Yah karena mereka selalu ngebahas masa depannya satu sama lain sampai ngerencanain punya anak berapa, tapi ujung-ujungnya nga sampai tukeran cincin.” ujar Aldino.

“Ouh gitu yah.” ucap Vania dan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.

“Bang!” panggil Venia.

“Apa?” tanya Aldino.

“Kenapa guru itu selalu nyuruh kitaa ngerjain tugas? Padahal kan tugasnya nga salah apa-apa.” tanya Venia.

“Yah karena kalau kalian nga ngerjain, kalian yang bakal di kerja in.” jawab Aldino.

“Bang!” panggil Vania

“Apa?” tanya Aldino yang berusaha sabar karena sarapannya tidak juga masuk ke dalam mulutnya sebab kedua adik kembarnya terus saja memberikan pertanyaan kepadanya.

“Kenapa KFC itu jagonya ayam?” tanya Vania.

“Yah karena jagonya cari masalah tuh cewe.” jawab Aldino santuy.

“Maksud kamu apa Al?’ tanya Clara sebab dirinya merasa tersinggung dengan jawaban anak sulungnya tersebut.

“Bunda kan bukan cewe lagi, jadi bunda ngga usah merasa tersinggung.” ucap Aldino karena tau apa yang di rasakan oleh Clara.

“Tapi kami juga bukan cewe.” ucap si Twins.

“Kalau kalian bukan cewe, trus apa dong?” tanya Aldino.

“Kami tuh bukan cewe, tapi kami itu adalah wanita.” jawab si Twins.

“Sama aja.” ucap Aldino.

“Nga sama loh bang!” tegas si Twins.

“Iyain aja deh, ntar malah tambah rumit lagi.” ucap Aldino lirih.

“Apa? Abang mau tambah cumi lagi?” tanya Vania saat mendengar suara lirih Aldino yang tak begitu jelas.

“Lah cumi?” tanya Aldino balik.

“Iyah cumi, atau Vania salah denger yah? Mungkin Bang Al bilang nya mau tambah mommy lagi bukan cumi.” ucap Vania setengah bertanya.

“Bunda jangan salah paham dulu, Al nga ngomong mau tambah mommy kok Bund, itu Vani cuman salah denger.” jelas Aldino saat Clara menatap nya dengan begitu tajam.

“Gini yah Adik ku yang bernama Vania, Abang tuh tadi nga bilang apa-apa, Abang cuman bilang nyam nyam nyam doang. Abang nga ada tuh bilang mau tambah mommy.” jelas Aldino kepada Vania karena saat dirinya menjelaskan kepada Clara, Vania hanya mengerjab-ngerjab polos, tanda dirinya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aldino dan Clara.

“Ouh ok.” ucap Vania mengangguk.

“Bang!” panggil Vania.

“Apa lagi?” tanya Aldino.

“Bang El kapan pulang?” tanya Venia.

“Mungkin satu abad lagi.” jawab Aldino.

Brak. Itu adalah suara gebrakan meja yang di lakukan oleh Vania.

“Uhuk uhuk uhuk,”

“Kamu kenapa sih Ven, noh gara-gara kamu, ayah jadi keselek piring nya, kan.” omel Clara.

“Lah, piring? Tapi piring ayah Masi ada tuh di depannya dan masih utuh.” ucap Vania.

“Maksud bunda makanan.” ucap Clara mengoreksi ucapannya tadi.

“Ven!” panggil Aldino lembut.

“Hah kenapa bang? Loh kenapa muka Abang basah tiba-tiba gitu?” tanya Venia.

“Ini kamu yang nyirem Abang, malah nanya Abang basah kenapa lagi.” ujar Aldino berusaha tenang. Jika saja yang menyiram nya bukan adik nya sendiri, maka akan di pastikan kepalanya akan berdarah karena di jedotkan oleh Aldino di tembok.

“Yah maaf, itu sih gara-gara Vani, siapa suruh dia ngegebrak meja tiba-tiba, kan Veni yang mau minum jadi kaget, jadinya Abang yang kena air nya deh.” ucap Venia yang tak mau di salahkan.

“Iyah-iyah, Veni emang salah.” ucap Vania.

“Lah, salah Veni di mana coba? Yang salah tuh Vani bukan Veni.” ucap Venia sewot.

“Kan Veni kembarannya Vani, jadi otomatis kalau Vani buat kesalahan, Veni juga ikut salah. Begitu pun sebaliknya, kalau Veni buat kesalahan, Vani nga ikutan salah karena Veni yang buat kesalahan, bukan Vani.” ucap Vania yang membuat semua orang melongo termasuk kembarannya sendiri.

“Mana bisa gitu, nga bisa lah. Kalau Vani yang buat salah otomatis Vani yang harus nanggung akibatnya sendiri, begitu pun sebaliknya, kalau Veni yang buat kesalahan otomatis Vani sebagai kembaran Veni harus bertanggung jawab sama masalah yang dibuat oleh Veni.” ucap Venia yang tak mau kalah, dan tak kalah membuat semua orang lagi-lagi melongo. Itu sih bukan sebaliknya, tapi seenaknya mereka saja.

“Udah ini mah, udah fix banget ini. Udah kembar, sama-sama pendek, sama-sama nga mau di salahin, sama-sama nga mau nanggung akibat dari kesalahannya, sama-sama sok yang paling bener, sama-sama keras kepala. Huh sok iye kalian aja deh.” ucap Aldino mengeluarkan semua unek-unek nya.

“Tapi Veni nga salah apa-apa kok.” ucap Veni membela diri.

“Tapi Vani nga mau di salahin! Yang salah Om Angga pokoknya, Om harus ngakuin kesalahan Om dan minta maaf ke Bang Al!” perintah Vania yang membuat Angga membulat kan mata. Kaget? Tentu saja kaget lantaran dirinya sedari tadi hanya menyimak tanpa mengeluarkan suara kecuali dentingan sendok yang keluar saat dirinya menyendok sarapannya.

“Why, what mistake did uncle do?” tanya Angga.

“Stop Om, Om nga usah ngelak lagi, Om harus minta maaf sama Bang Al!” perintah Vania lagi.

“Ok, fine. Om bakal minta maaf, walaupun aku nga salah apa-apa sih.” ucap Angga di akhiri dengan suara lirih bahwa dirinya tak salah apa-apa.

“Maafin om Al.” ucap Angga.

“Huh, mau aja om ngikutin perintah si curut itu.” ucap Aldino.

“Yah mau gimana lagi, kalau nga mau urusan nya makin panjang mah, Om harus ngalah demi keponakan kesayangan Om.” ujar Angga.

“Iyain aja deh.” ucap Aldino pasrah.

“Sudah-sudah, habiskan sarapan kalian.” perintah Gionandra.

Semuanya pun melanjutkan memakan makanan mereka yang sempat terhambat karena perdebatan yang kecil itu.

“Ba–” ucapan Vania terpotong karena Venia tiba-tiba memasukkan potongan besar roti ke dalam mulutnya.

“Udah diem Van, bawel banget sih, kan barusan ayah nyuruh abisin sarapan, bukannya ngomel-ngomel nga jelas.” protes Venia.

“Sywopa ywang ngwomel, owang Vani cuoman mawo nanya kok.” ucap Vania yang tak jelas karena mulutnya di penuhi oleh roti yang di sumpalkan ke mulutnya oleh Venia.

“Udah, nga usah ngomong. Vani ngapain juga sih pake ngomong pake bahasa alien? Vani tuh nga jelas bange–,” omelan Venia terpotong karena Vania balik menyumpalkan mulut Venia menggunakan potongan roti yang tak kalah besar dari potongan roti yang tadi Venia sumpalkan ke mulut Vania.

“Nah mampwos, mwakan tuh woti.” ucap Vania yang masih tak jelas karena di mulutnya masih di penuhi oleh roti.

“Uwah mwaacih, itwu syelai stwobewi tewakhiw.” ucap Venia.

“Hah, huwaaa bwunda, Veyni jwahat huwaa! Veyni mwakan syelai stowbewi tewakhiw mwilik Vani.” adu Vania kepada sang Bunda.

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *