Oleh: Aprilla Harlina
Paoeh, 2 November 2025
Rembulan bersinar gagah malam itu, ditemani berbagai rasi bintang dan segala keindahannya. Mereka seolah menampilkan makna tersendiri bagi siapa pun yang mampu memahami. Namun sesungguhnya, di balik cahaya dan keindahan itu, mereka juga menyimpan cerita besar seperti hakim yang menyaksikan perdebatan para terdakwa. Bedanya, hakim memberi keputusan, sementara mereka tidak. Mereka hanya diam, menjadi saksi bisu yang tak pernah berpihak, hanya menyaksikan perjalanan manusia dari masa ke masa. Dan kuyakin, malam itu pun mereka sedang melihat dan menanti, sejauh mana manusia mampu bertahan dalam kisah yang sedang kuceritakan.
Ia mengerang, berusaha menarik napas perlahan.
Tidak… aku mesti bertahan, pikirnya.
Tubuhnya ditelentangkan di atas rumput, menatap langit yang dipenuhi orkestra bulan dan bintang. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Darah yang mengalir dari luka tembak di dada tak juga berhenti, seolah menolak berdamai dengan hidupnya.
Tidak, pikirnya lagi.
“Aku mesti menyampaikan pesan ini kepada warga… sebelum mereka memangsa seluruh orang!”
Ia terhuyung, berusaha berdiri, lalu berlari. Pakaian yang ia kenakan telah basah oleh keringat dan darah. Persendiannya terasa hendak lepas, tetapi tidak ada alasan baginya untuk berhenti.
“Wahai langit,” gumamnya lirih, “berpihaklah pada manusia yang berjuang ini. Jangan beri sinar pada jalan yang kutempuh. Berikanlah aku satu kesempatan, agar bisa menyampaikan pesan kepada ribuan nyawa yang menanti kabar dariku. Wahai… dengarkanlah.”
Namun, seolah langit tak berpihak kepadanya. Ia menjawab doa malam dengan menerangkan cahaya bulan di jalannya—memberi tanda kepada musuh untuk segera menghabisi jiwa yang sedang berlari itu.
Bruk!
Tubuhnya rebah. Prajurit yang berpatroli malam itu menembaknya, terbantu oleh sinar bulan yang menyorot jalur pelariannya. Peluru itu menembus organnya, menambah luka yang telah lebih dulu menganga. Ia tak lagi sadarkan diri; napas dan jiwanya perlahan meninggalkan raga.
Wahai jiwa yang berpulang di malam itu, sambutlah kemenangan yang menyertaimu. Saksikanlah persembahan yang telah kau mulai dengan pengorbananmu malam ini. Semangat dari jiwa-jiwa yang simpati akan darah yang kau tumpahkan. Pulanglah, dan tenanglah di alam sana.
