Oleh: Amara Nasifa*

Dingin bulan November memeluk stasiun kereta yang sepi. Di sudut yang basah oleh tempias hujan, seorang laki-laki berusia 60 tahun, dengan mantel usang dan mata yang lelah, duduk. Jari-jarinya menari perlahan di senar gitar tua, memainkan melodi yang terasa seperti soundtrack bagi langkah terburu-buru setiap orang yang berlalu lalang.

Elias adalah musisi Blues yang dulunya digadang-gadang akan meraih ketenaran, seorang seniman yang seharusnya berdiri di panggung yang megah. Kini, ia hanya seorang pria tua yang menyajikan musiknya kepada angin dingin dan sepi.

November adalah bulan terberat bagi Elias. Dinginnya udara selalu mengingatkannya pada kegagalan album debutnya puluhan tahun silam, sebuah luka yang memaksanya menjadi musisi jalanan. Elias sudah hampir menyerah, gitarnya sudah usang dan ia sadar musiknya sudah tidak lagi diminati, tenggelam oleh bisingnya perkembangan zaman. 

Elias merasa lelah, ia bertekad ini adalah malam terakhir. Tepat sejalan dengan keputusasaan itu, hujan November di luar stasiun turun semakin deras. Air menetes tak henti dari celah-celah atap yang bocor, seolah setiap tetesnya adalah air mata alam yang ikut meratapi kelelahan dan niat Elias untuk menyerah. Elias menyelesaikan melodi sedihnya, menggantungkan petikannya di udara yang sepi. Ia menghela napas panjang dan mulai mengemasi gitarnya. Kali ini, ia benar-benar akan berhenti.

Saat mengumpulkan beberapa koin receh, ia menemukan secarik kertas lusuh yang dilipat rapi. Di bawah temaram cahaya lampu stasiun yang berkedip, Elias membukanya perlahan. Tertulis di sana, dengan goresan tangan yang singkat namun terasa lugas:

 “Lagu mu bukan tentang kegagalan. Tapi tentang sesuatu yang baru yang akan datang. Tolong, jangan berhenti di sini. Kami mendengarmu” 

Seketika, rasa lelah Elias sirna. Ia tahu itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan dari seseorang yang benar-benar memahami dan merasakan keputusasaannya. Ia mendongak, matanya menyapu sekeliling. Tidak ada siapa pun yang terlihat, hanya sisa-sisa jejak sepatu basah yang menjauh, seolah pesan itu diantar oleh angin November.

Elias meletakkan tas gitarnya, ia mengambil gitar itu kembali. Rasa lelah dan putus asa berganti menjadi rasa ingin tahu dan dorongan baru. Ia mulai  memainkan melodi yang sama, tetapi kali ini ia mengubah bagian akhir. Ia menambahkan chord cerah, nada yang lebih cepat, seolah melodi itu perlahan keluar dari kegelapan dan bergerak menuju cahaya. 

Ini adalah Harapan Elias. Ia memainkan bagian ini dengan seluruh jiwanya. Untuk pertama kalinya dalam tahun itu, ia bermain bukan untuk koin, bukan untuk penonton, tapi untuk membalas pesan anonim itu. Elias membiarkan melodi baru itu mengalir bebas di bawah kanopi stasiun, mengalahkan suara rintik hujan yang kini mulai mereda.

Malam itu, seorang pemuda yang bekerja di sound engineer sebuah studio kecil, melewati stasiun dan mendengar bagian akhir melodi Elias yang baru. Pemuda itu tertegun dan terpesona mendengar perpaduan melodi itu. Ia dengan cepat mengeluarkan ponselnya, merekam sisa-sisa melodi cerah itu. 

Elias menyelesaikan lagunya. Ia merasa lega, seperti badai telah berlalu di dalam dirinya. Ia telah memenuhi janji pada dirinya sendiri, menciptakan harapan yang baru. Ia mengambil gitarnya, lalu berjalan menembus jalan yang berkabut, meninggalkan stasiun. 

Kisah Sang Musisi Tua tidak berakhir, ia justru memulai babak yang baru. Elias, sama seperti namanya yang bermakna “Gigih dalam Iman”, ia membuktikan bahwa bahkan di tengah dinginnya hujan November, harapan di selembar kertas dan sebuah melodi baru, selalu hadir bagi jiwa yang memilih untuk terus percaya.

Watansoppeng, 10 November 2025

(Penulis adalah Siswi MAN 1 Soppeng)

(Visited 124 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *