Oleh: Andi Syaikhah Fadiyah Eka*
Di sebuah sekolah menengah pertama di Sulawesi, ada seorang siswa bernama Abdi, yang baru berusia 15 tahun. Abdi dikenal sebagai anak yang sabar, murah senyum, dan tak pernah mencari masalah. Namun entah mengapa, meskipun Abdi tidak pernah menyakiti atau mencari keributan, ia justru sering kali menjadi sasaran perundungan. Kakak kelas maupun teman seangkatannya sering menjadikan Abdi objek ejekan dan hinaan tanpa alasan yang jelas.
Beberapa contoh perundungan yang sering dialami Abdi adalah saat ia diminta untuk diam dan tidak boleh bergerak, kemudian ditinggalkan begitu saja, jika ia bergerak akan di ejek bahwa ia berpacaran dengan seorang gadis bernama lisa. Selain itu, Abdi juga sering kali diajak berfoto bersama kakak kelas, namun foto-foto tersebut justru dijadikan bahan ejekan, dengan menyebutnya “sumbing” dan “gendut ”. Bahkan, mereka sering memanggil Abdi dengan nama-nama yang merendahkan atau mengejek fisik Abdi.
Meskipun begitu, Abdi tidak pernah membalas perundungan itu. Alih-alih merespon dengan kemarahan atau ejekan balik, ia tetap tersenyum, seolah-olah perundungan itu tidak pernah terjadi kepadanya. Ia memilih untuk tidak mempedulikan kata-kata kasar atau ejekan yang dilontarkan kepadanya, meskipun di dalam hati, pasti ada perasaan sakit yang ia rasakan.
Abdi memiliki cita-cita menjadi penyanyi dan sangat suka mendengarkan lagu, terutama lagu-lagu dari grup JKT48. Idola Abdi adalah Freya, salah satu anggota grup tersebut. Namun, ia sering merasa kurang percaya diri karena teman-temannya bilang ia tidak pantas jadi penyanyi dan menganggapnya aneh karena mengidolakan Freya. Terkadang, saat ia merasa sangat tertekan, Abdi merasa kesulitan untuk menghadapinya. Ia bisa merasa marah dan melampiaskan perasaannya dengan cara yang tidak sehat, seperti menusukkan pulpen ke tangan atau kepalanya, melempar lempar barang barangnya atau bahkan menjedotkan kepalanya ke tembok. Ia juga terkadang menyiramkan air ke tubuhnya untuk meredakan dan melampiaskan perasaannya yang terpendam .
Namun, meskipun banyak yang merundung dan meremehkannya, Abdi memiliki banyak sifat yang patut dicontoh. Guru-guru sering memuji Abdi karena sikapnya yang rajin, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Ia selalu datang tepat waktu ke sekolah, mengenakan pakaian yang rapi dan lengkap, serta tidak pernah meninggalkan sholat. Sifatnya yang tekun dalam belajar dan kesungguhannya dalam beribadah membuatnya menjadi teladan bagi teman-teman sekelasnya.
Dari cerita Abdi, kita belajar bahwa meskipun setiap orang memiliki kekurangan, selalu ada kelebihan yang bisa dijadikan kekuatan. Abdi mengajarkan kita untuk tetap berusaha dan menjaga sikap positif meskipun hidup tidak selalu adil. Kesabarannya menjadi contoh bahwa di balik setiap tantangan, ada potensi yang bisa berkembang. Sikap positif Abdi, meskipun dalam kesulitan, menginspirasi banyak orang dan menunjukkan bahwa kekurangan atau tantangan dapat menjadi sumber kekuatan dan motivasi bagi orang lain.
Watansoppeng, 29 Desember 2024
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas VII.2
