Oleh: Reisya Alfi
Pada senja yang perlahan pudar,
kau berdiri di tepi dunia yang rengkah,
seperti reruntuhan istana yang tak lagi utuh,
ditinggalkan oleh cahaya yang dulu menyelimutinya.
Ada bayang di kejauhan,
menari tanpa wajah,
memanggil tanpa suara,
dan kau hanya bisa menatap dalam diam.
Setiap batu yang runtuh,
adalah harapan yang terkikis perlahan,
tapi kau terus berdiri,
meski tanah di bawahmu mulai retak.
Mungkin ada dunia di balik reruntuhan,
sebuah tempat di mana malam tak menghapus,
di mana senja tak pernah padam,
dan kau bisa menemukan kembali apa yang hilang.
