Oleh: Reisya Alfi
Kau menari dalam keheningan malam,
tanpa penonton, tanpa panggung,
hanya bintang-bintang mati yang menyaksikan,
menjadi saksi atas gerak-gerikmu yang resah.
Langit hitam, seperti tabir yang tak bisa kau sentuh,
namun selalu ada di sana,
menggantung tanpa janji,
hanya menawarkan hampa yang semakin dalam.
Setiap gerakan adalah pertanyaan,
yang tak pernah mendapat jawaban,
hanya bertambah dengan setiap langkah,
seolah waktu menjadi tak berujung.
Kau ingin berhenti,
tapi tarian itu tak bisa dihentikan,
hanya terus berputar dalam lingkaran tanpa akhir,
seperti malam yang tak pernah menemukan fajar.
