“Zahra, ke kantin yok, ajak Rahmi. Zahra yang saat itu sedang datang bulan ia jadi malas bergerak tapi kare,na sahabatnya sudah lapar jadi Zahra menuruti keinginan Rahmi.
Sampainya di kantin ia makan dan berbincang.
“Zahra, Aci kenapa ga ke sekolah ya padahal kan lagi jamkos. K an seru kalau ada Aci,” ujar Rahmi sambil menatap Zahra dengan heranT
Zahra mengangguk, “Iya, tumben banget ga sekolah.”
Rahmi mengernyitkan kening, “Atau mungkin sakit?”
“Tapi kayaknya engga deh, kemarin dia keliatan kayak biasanya,” jawab Zahra.
“Lagian kalo dia sakit dia pasti minta izin, lah ini engga,” sahut Rahmi.
“Ooh atau mungkin karena hujan, rumahnya pun rawan banjir,” sela Zahra.
Rahmi mengangguk, “Tapi aku khawatir Zar takut Aci kenapa-napa, gatau tiba-tiba perasaan aku ga enak.”
Zahra memikirkan hal itu sejenak, “Yaudah, nanti kita ke rumah Aci aja, abis pulang sekolah.”
“Okey,” jawab Rahmi setuju.
“Eh woi! kita kan belum istirahat malah nongki disini, ntar keliatan guru, yok balek bisa berabe nanti”.
“Kan tadi kamu yang ajak ke kantin Rahma”. “hehe aku emang ajak ke kantin tapi bukan duduk di kantin”.
“emm.. iya lah tu”.
Mereka berdua berjalan balik ke kelasnya. merekapun sampai di kelas.
huftt untung ga keliatan guru kalau ga… eh udah lah mending kita menggambar kata Zahra. Rahmi yang hobi menggambarpun langsung diam dan mengambil pensilnya, ia mulai menggambar berdua.
“Bye Zahra aku duluan teriak Rahmi”, Rahmi berjalan pulang.
“Ya hati-hati rahmii”, saut Zahra.
hari ini hari Jum’at jadi mereka pulang lebih cepat.
Hum.. hari ini aku pulang sendrii, Rahmi kan belok sedangkan aku lurus. sepi banget kalo ga ada Aci, biasanya aku pulang juga sama Aci, kemanapun sama Aci.
*
“Assalamu’alaikum Acii….”
Tidak ada yang menyahut salamnya, Rahmi dan Zahra mengulang lagi. Tapi masih saja tidak ada yang menyahutnya. Pintunya kayaknya kebuka deh. Lampunya pun menyala pasti ada Aci di rumah apa mungkin dia ga denger kita?
Ngiiiikk…. Rahmi membuka pintu rumah Aci.
Rahmi yang sedari tadi sudah khawatir sama Aci langsung menerobos masuk ke dalam. Acii…. kamu di mana, ini aku Rahmi. Zahra mengikutinya dari belakang sembari mencari Aci.
“Zahraaa!!!…”
Teriak Rahmi..
Zahra kaget dan langsung bergegas ke sumber suara tersebut. “Ada apa rahmii kenapa teriak?”..
“cepat kesini bantuin aku”.. kata Rahmi.
Zahra terdiam kaget sejenak tidak percaya, Zahra berusaha memeluk Aci dari bawah sedangkan Rahmi merebut tali yang dipegang temannya itu.
Zahra menitihkan air mata.
akhirnya mereka berdua bisa menghentikan Aci.
Mereka terduduk diam dengan dihantui pikiran mereka masing-masing, mereka ga percaya temanya Aci yang selalu ceria, yang selalu membantu mereka, yang selalu ada disaat suka dan duka, yang selalu mengerti mereka, tapi malah Aci yang butuh semua itu. Zahra dan Rahmi sangat merasa bersalah karena ia tidak pernah peka apa yang terjadi dengan temannya itu. Mereka berdua menangis, sedangkan Aci hanya terdiam melamun dengan kedua kaki ditekuk. Air matanya mengalir jatuh perlahan membasahi pipinya. Kedua matanya sembab dan rambutnya acak-acakan.
Zahra berjalan menuju dapur dan kembali dengan membawa gelas putih berisikan air. “Nih minum dulu Ci. Tenangin dulu nanti cerita. Sambil mengusap-usap punggung Aci.
Mereka memeluk Aci. Perasaan mereka tidak karuan melihat sahabatnya hampir saja tiada. “Aci, kamu kenapa? ” Kamu pasti ada masalah. Cerita yah sama kita. Kita bakal dengerin cerita kamu di sini. Kalaupun ceritanya panjang dan kamu ga mau ngomong panjang-panjang, disingkat aja Ci, ga papa ko yang penting kamu cerita ke kita. Luapin semua kekesalan, kemarahan, kebencian kamu ke kita. Kita ga bakal bilang ke mama kamu ko. Aman. Kamu percayakan sama kita”.
Aci yang sudah mulai merasa tenang perlahan menceritakan semuanya.
