Oleh: Madeline Cinta Fitriadi*
Sumatera Barat, daerah kelahiran yang selalu aku banggakan. Tempat pertama yang kulihat saat lahir ke dunia. Alamnya elok nian, asri dan sejuk untuk dipandang, membuatku betah melihat nirmala yang diberikan Tuhan kepadanya. Sekumpulan orang yang menjaga dan mengikatku juga berada di daerah ini. Kusebut mereka keluarga. 15 tahun telah kuhabiskan untuk menimba ilmu dan menghirup udara yang diberikan untukku. Latar belakang ini membawaku pada sebuah cerita yang perlu disampaikan kepada sang pemberi kebaikan, Sumatera Barat.
Pertama, terima kasih kusampaikan padamu, dalam segi apa pun itu. Kau menang dalam hal apa saja. Terima kasih telah menampung hidupku. Memberikan fasilitas yang cukup sehingga aku bisa tumbuh hidup dengan aman di sini. Tapi, alunan lagu membuatku teringat akan cerita singkat yang sekilas lewat. Pikiranku dibuat menerawang dengan kehadirannya di telingaku.
Kini kuakui, vibes dari sebuah lagu memang sangat memengaruhi pikiran pendengarnya. Banyak pengalaman yang kudapatkan di sini. Tangis, tawa, suka, dan duka telah kurekap dalam lantunan nada yang berputar. Kau mengajariku banyak hal. Bagaimana melawan jahatnya dunia, bagaimana cara menutup telinga dari kata kata menyakitkan, kau ajarkan aku kuat dalam hidup hingga kini aku sudah tumbuh besar.
Kau adalah guru terhebat, namun juga luka terberatku. Banyak rasa yang kudapatkan di sini. Kau ajarkan aku mengerti akan balasan atas perbuatan yang aku lakukan. Banyak sudah tangis yang kulalui di sini. Kini janji kuingkari. Dulu aku pernah berkata bahwa aku akan selalu menetap di bawah langitmu, berjalan di atas bumimu, dan akan terus menghirup udara asrimu. Sekarang kuingkari itu, dengan harapan lenyap amarahmu.
Bukan tanpa alasan. Terlalu banyak luka yang kurasakan di sini. Di setiap sudutmu banyak mengandung kenangan pahit yang menimpa hidupku. Aku harap ini bisa hilang dengan kepergianku kelak. Akan ada masa di mana aku melangkah pergi meninggalkanmu tumbuh menjadi daerah yang lebih hebat. Aku tahu banyak hari yang sudah kuhabiskan di sini, tapi percayalah, bagaimanapun aku, kau tetaplah Sumatera Barat di mataku. Daerah yang selalu kubanggakan di mana pun aku berada nanti.
Di saat aku pergi, jangan lupa lambaikan tanganmu. Aku akan kembali membawa cerita baru yang nanti akan kuceritakan padamu. Tetaplah menjadi daerah yang membuat semua orang takjub saat menyebutkan namamu. Kau abadi dalam aksara, sastra, dan prosaku. Menjadi tokoh utama dalam cerita hebatku. Sampai Jumpa, ku tunggu penantianmu.
*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang, Sumbar
