Oleh: Madeline Cinta Fitriadi*
Kadang keadaan berjalan tanpa kabar. Mengalir tak memberitahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kesiagaan kita sangat dibutuhkan untuk berjaga-jaga agar selalu menerima. Tak jauh dari pembahasan pada aksara kali ini bertajuk pada kata ”menerima” yang bertempat pada kalimat sebelumnya.
Saya mendefinisikannya sebagai aturan damai dalam suatu keadaan. Terkadang, alur yang terjadi tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita harus siap menjalani dan melaksanakan yang sudah seharusnya kita lakukan. Tak mudah bila hanya diucapkan dengan kata yang keluar melalui suara. Hidup ini berirama. Bebas mengembara di bawah langit yang dilaluinya.
Hujan kali ini membawaku pada suatu makna. Makna yang mesti diartikan pada waktu yang membuatnya ada. Tepat saat awan putih berganti warna ketika air laut menguap dan menjadikannya gelap. Ia runtuh, jatuh, dan rapuh. Terjun bebas tak melihat apa yang akan ia timpa. Kehidupan di bawahnya meringis di tengah air yang turun tak memberi pesan. Maksudku gerimis, memberi tenang dan menyejukkan suasana. Lalu perlahan ia mulai deras dan mengalir bebas, melepaskan seluruh perihal yang mengikatnya.
Tak semua orang merasakan hal yang sama. Mengungkapkan cerita tentang apa yang mereka rasa di kala hujan bercerita. Hujan malam tadi meninggalkan embun yang membuahkan rona, namun bukan merah warnanya. Maha karya pun tercipta di atas bumi yang menjadi kanvas dari lukisan abstrak tak bermakna.
”Gambaran” maksudnya. Semua orang tentu punya indra penglihatan jika diizinkan oleh Yang Maha Kuasa. Kita tak memilih ingin melihat atau tidak, namun tak ada angin yang memberi kabar akan datangnya suatu perkara. Pilu, terlalu banyak kisah yang bertabrakan hingga menimbulkan konflik baru yang tak diinginkan. Apalah daya. Yang mendengar ternyata juga ingin didengar. Dunia bukan tentang siapa yang mengalah. Tapi ia mengajarkan kita arti dari saling mengerti dan bahu membahu dalam membangun kehidupan.
Tidurlah jika kau lelah. Kita semua perlu istirahat untuk menghadapi badai selanjutnya. Entah kapan dan bagaimana badai itu akan datang. Yang jelas ia pasti berlalu. Bersabarlah dalam menghadapi tiap inci penderitaan yang diberikannya. Doa adalah kunci utama dalam penyelesaian masalah tiap manusia.
Setelah badai itu berlalu, bukalah matamu dan bangkit dari tidurmu. Lihatlah dunia yang membangunkanmu dari keterpurukan. Ukir senyum di bibirmu, dan katakan ”ternyata saya bisa”. Jangan mengeluh, cukup hanya berdamai dengan keadaan. Kita pasti siap, mampu, dan bisa mengatasi rintangan apa pun yang menerjang. Lelah tentu ada, beri secercah semangat pada hidupmu dan terimalah buah dari usaha yang kau tanam.
*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang
