Oleh: Aisyah Nur Adhayani
Di tengah kejamnya dunia, secara tidak sengaja dua manusia dipertemukan. Ya, itu kita. Entah apa maksud dari pertemuan sementara ini. Tapi, aku tau bertemu denganmu itu pelajaran yang akan abadi dalam cerita hidupku, dan aku pastikan cerita itu akan tertulis dengan tinta yang tak akan pudar. Di keramaian, aku tersesat di dalamnya, dan orang pertama yang menunjukkan arah adalah kamu.
Di tengah derasnya hujan, kau datang sebagai payung dan menjadi pelangi setelah hujan itu reda. Di gelapnya malam, kau menjadi lampu untuk menerangi malam itu. Bukan lagi tentang siapa yang berjanji, tapi tentang siapa yang bertahan, siapa yang tau dan bisa mengerti tentangku. Salah satu keindahan persahabatan sejati adalah kemampuan untuk saling memahami dan dipahami satu sama lain.
Greece, kalau emang akhirnya kita asing, aku cuma mau bilang senang bisa ketemu kamu. Banyak perbedaan antara kita, tapi perbedaan bukan alasan untuk kita tidak bisa bersama. Makasih sudah membuat hidupku jadi berwarna. Aku berharap kamu langit yang selalu ada saat awan menangis, saat matahari menyapa pagi hari, saat bulan memancarkan cahayanya.
Aku sungguh ingin belajar bagaimana ombakmu bergolak, agar aku memahami setiap butir pasir dalam dirimu. Agar aku bisa bergerak seirama dengan pasang surut arusmu. Aku juga ingin belajar melukis senja. Setelah aku pandai melukisnya, akan kutulis namamu di sana.
Please don’t leave me. You’re the only one out of a million friends who understands me.
Watansoppeng, 24 Desember 2022
