Oleh: Adhini Khumairah Latifa
Mungkin di antara orang yang kau temui akulah yang paling buruk. Aku ingin meminta maaf akan hal itu Tuan. Tapi percayalah, kau tidak dapat menemukanku di orang lain. Jika aku disuruh untuk mengalah demi masa lalumu, maaf Tuan, aku tidak bisa. Aku tidak ingin mengalah dengan masa lalumu. Biarkan aku pendam rasa sakit ini daripada harus mengalah. Aku tidak pernah meminta banyak kepadamu. Hanya yang aku minta waktu dan ketulusanmu kepadaku. Hanya itu saja tuan. Jika hal itu membuatmu pergi, lantas perempuan seperti apa yang kau inginkan Tuan?
Terima kasih karena kau sempat hadir di ceritaku yang tak kunjung selesai ini, walau hanya sebentar tapi kau adalah peran utama di cerita ini. Jujur aku masih mengharapkan Tuan agar kembali bersamaku. Jika menurutmu waktu itu aku hanyalah cadanganmu saja, bukankah kau harusnya memperlakukan aku selayaknya cadangan? Tetapi waktu itu, mengapa kau memperlakukanku seolah-olah akulah satu-satunya yang kau punya. Itu sangatlah berlebihan untuk seorang cadangan Tuan, dan jika benar aku adalah cadanganmu, harusnya waktu itu aku juga memperlakukanmu selayaknya cadangan Tuan. Bukankah itu adil?
Tapi di balik itu semua, kedatanganmu adalah hal terindah yang kurasakan, dan kepergianmu adalah hal yang aku takutkan. Mungkin kesalahan terbesarku adalah menaruh rasa yang berlebihan kepadamu, tanpa melihat seberapa cantik masa lalumu dulu dan seberapa cantik orang baru yang akan kau temui nanti Tuan. Ya, kuakui aku kalah dengan masa lalumu dan juga orang baru yang kau temui itu. Ini bukan lagi tentang kecantikan tetapi aku kalah karena waktu. Aku tidak bisa lebih lama bersamamu dibanding dengan masa lalumu yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu. Aku sungguh kalah akan hal itu.
Aku berani menangisimu bahkan mengejarmu karena aku menyukaimu dengan perasaan. Aku terlalu larut menyukaimu hingga perasaanku ini tak kunjung usai kepadamu. Namun, berbeda jika aku menyukaimu karena logika, mungkin saja aku sudah meninggalkanmu ketika kau menggoreskan luka pertama kali di diriku ini dan juga aku tidak akan menangisimu jika aku menyukaimu karena logika. Tapi sayangnya aku terlalu larut menyukaimu hingga aku terbawa perasaan kepadamu. Semua perlakuan yang kau berikan waktu itu kupikir bahwa kau benar-benar menyukaiku dan tidak akan meninggalkanku, hingga ketika kau pergi, aku sangat terpukul akan kepergian itu dan sulit untuk melupakanmu dan juga sulit menerima orang yang baru.
Aku memang tidak sesempurna masa lalumu dan juga orang baru yang kau temui, tapi tidak perlu kesempurnaan untuk merasa bahagia karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kamu mampu melihat apa pun secara sempurna. Maaf jika aku kurang memahamimu dibanding masa lalumu itu yang bisa memahami kapan saja. Maaf akan hal itu Tuan. Bisakah aku memintamu sekali lagi?
Watansoppeng, 26 Desember 2022.
