Oleh : Madelina Cinta Fitriadi*

Kita tumbuh dalam dunia yang tua. Dunia yang mengajarkan arti dewasa yang sesungguhnya. Rintik waktu yang berpapasan dengan alunan kekejaman dunia. Istirahatkan dirimu jika ia lelah. Hidup memang terus berjalan, tetapi berilah sedikit jeda pada masalahmu.

Jangan biarkan matamu mengeluarkan air, karena hatimu tak sanggup lagi untuk menahan. Tidurlah jika kau sakit. Mimpi buruk tak akan membuatmu semakin terpuruk. Kegelapan tak akan menjauhkanmu dari cahaya. Tenanglah, berikan sedikit kepercayaan kepada dirimu sendiri.

Bahu ini akan selalu ada jika engkau butuh sandaran. Tangan ini akan selalu mendekapmu dengan kehangatan. Kita adalah dua orang yang saling memberi semangat, walaupun sama-sama penat. Aku hadir di sini karena kamu, dan kamu bisa di sini karena aku.

Mutualisme ini akan selalu terjalin walau nanti kita saling lupa. Ini antara aku dan diriku. Aku menyebutnya dua orang karena kadang kita berlawanan dan kadang kita sejalan. Arah yang berlawanan akan melengkapi denah hidup yang aku punya, dan arah yang sejalan akan mempercepat penyelesaian ceritaku. Kita saling melengkapi.

Jangan takut aku meninggalkanmu ketika sudah terbebas dari masalah ini. Aku menghargaimu sebagai kenangan indah yang tak terlupakan. Suatu saat, jika garis lengkung sudah terlukis di bibirku, janji ini tak akan aku ingkari. Aku akan selalu mengingatmu.

Terima kasih telah membawaku sampai ke titik ini. Suatu saat, kita akan pulih bersama, kemudian membacakan cerita suka maupun duka yang kita lalui. Hal itu akan menjadi history singkat yang amat hebat.

Lekaslah pulih, karena aku merindukan tawa yang kita buat bersama, senyum yang kita lukis bersama. Tak ada rekayasa dalam cerita itu. Ini adalah fiksi nyata yang sempurna bagiku.

*Siswi SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *