Oleh: Andi Annisa*

Suatu hari aku menemukan seekor kucing malang.Ia seperti sedang menunggu seseorang. Namun sayangnya penantiannya tidak membuahkan hasil apa pun. Orang yang ia tunggu tetap saja tak kunjung datang. Badannya penuh dengan luka. Aku kasihan padanya dan memutuskan untuk menghampirinya, berniat untuk mengobati lukanya.Tetapi kucing malang itu sepertinya memiliki trauma yang sangat besar terhadap manusia. Ia menjadi sangat ketakutan ketika melihat aku mendekatinya. Karena ulah manusialah, ia bisa menjadi seperti itu. Pelan-pelan aku mencoba untuk menyembuhkan segala trauma dan luka yang ada pada dirinya.

2 tahun berlalu, kucing itu telah sembuh dari segala trauma dan lukanya. Ia mulai menerima kehadiran pemilik barunya. Ia sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan baru yang dianggapnya nyaman dan melindunginya dari segala marabahaya yang selalu mengancam seperti ketika ditelantarkan dan berkeliaran di luar sana. Kini aku merawat kucing itu dan memberinya nama Cociey. Kami sangat bahagia sampai suatu ketika orang yang pernah Cociey tunggu dengan waktu yang tidak singkat itu kini kembali. Meskipun aku dan Cociey telah bersama dan melewatkan waktu yang cukup lama, Cociey tampak masih menginginkan orang itu. Orang yang jelas-jelas telah meninggalkannya saat ia membutuhkan seseorang yang bisa menemani dan menyembuhkan rasa trauma dan segala lukanya.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika memang Cociey memilih orang itu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, meskipun sangat sulit melepaskannya. Aku harus ikhlas. Dari awal memang akulah orang asing di sini. Seharusnya aku tidak pernah ada di kehidupan Cociey dan orang itu.

Tapi semua ini bukan tentang kucing saja.

*Penulis adalah siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.2

(Visited 72 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *