Oleh: Ryan Hidayat
Bel istirahat berbunyi. Aku dan teman- teman ingin kekantin untuk makan karena belum sarapan sama sekali. Tapi, belum sampai di kantin, ada salah seorang teman yang memanggil ku dan berkata ,”Kamu ditunggu guru di perpustakaan.” Aku panik sambil bertanya -tanya siapa guru yang memanggilku. Setelah sampai di perpustakaan, ternyata bukan hanya saya yang di panggil, tetapi juga ada beberapa siswa. Pertanyaanku yang tadi sudah terjawab, teryata guru memanggilku untuk berdiskusi mengenai tulisan atau karya kami yang telah diposting di website Pena Anak Indonesia.
Di ruangan itu kami bertujuh dengan dua orang guru yang membimbing dan memotivasi kami untuk belajar menulis dan terus berkarya. Dua orang guru itu membawa kami ke perpustakaan untuk berdiskusi mungkin agar tidak ada gangguan. Dalam ruangan itu kami tidak hanya mendapat motivasi dan bimbingan untuk terus berkarya. Namun, juga mendapat semangat, dan yang lebih menarik perhatian saya ketika dia berbicara tentang semangat literasi melalui surah Al-Alaq sebagai wahyu pertama yang diterima oleh baginda Nabi Muhammad Saw.
Tidak terasa bel masuk sudah berbunyi. Dengan ciri khas yang selalu membuat siswa penasaran di akhir materi, dia menutup diskusi dengan sebuah pertanyaan kepada kami berlima, ” Mengapa wahyu pertama diturunkan Allah Swt Surah Al-Alaq yang artinya segumpal darah, kemudian di awal ayat dengan kata Iqra yang artinya bacalah,sedangkan pada saat itu nabi Muhammad tidak bisa membaca” ? Sungguh pertanyaan magic bagi usia saya yang belum pernah mendengar dari mimbar.
Dari waktu singkat itu, persepsi saya tentang sekolah besar seketika menerima ledakan perubahan. Saya mulai berpikir, bahwa sekolah yang besar bukanlah tentang seberapa tinggi bangunannya dan semegah apa fasilitasnya, tapi sekolah yang megah adalah seberapa luas wawasan pengajarnya, sedalam apa ilmu pelatihnya, sekuat apa hati pembimbingnya dan yang terpenting sekokoh apa iman dari pendidiknya. Seperti kata Ki Hajar Dewantara pada buku yang pernah saya baca., ” Guru itu Ngerti, Ngerasa, dan Ngelakoni sehingga ia mampu diguguh dan ditiru.
Dalam pertemuan singkat itu juga aku berikrar dalam hati, “Aku ingin terus berkarya, agar usia mudaku bisa lebih berarti.”
Idealisme adalah kemegahan terakhir yang dimiliki anak muda. Pendidikan adalah pondasi untuk membangun perabadan.
Salam Literasi
Salam hangat untuk SMP Haska
